Kelakuan Turis Asing Berkantong Tipis Menginap di Hostel Jalan Jaksa: Berendam di Bak Mandi
Para turis tersebut langsung berendam di bak mandi. Mereka mengira itu adalah bathtub
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
"Mereka dulu yang menginap umumnya di usia muda. Mereka masih mencari jati diri lah berpetualang," ujarnya.
Boy mengenang, kala itu ia bersama kakak perempuannya kerap diajak oleh ayahnya menawarkan jasa penginapan langsung di bandara tersebut.
Mereka menaiki becak menuju bandara demi menjemput bola pelanggan baru.
"Papa jemput bola langsung ke bandara. Saya sama kakak dan menantunya ikut menjemput ke sana," ceritanya.
Karena fasih berbahasa Inggris, Nathanael dengan mudah mengajak turis asing untuk menginap di hostel Wisma Delima.
Nathanael mengantarkan turis asing itu dengan menumpangi becak dari Kemayoran menuju Jalan Jaksa.
"Jadi bareng-bareng rombongan naik becak, ada dua atau tiga becak. Marketingnya dulu seperti itu," kenangnya.
Membeludak

Sekira medio 1970-an, Wisma Delima menapaki puncak keemasannya. Pada rentang tahun itu, Nathanael sampai harus mengontrak tiga rumah untuk dijadikan penginapan lantaran Wisma Delima tak lagi bisa menampung turis.
Menurut Boy, ayahnya sempat mengontrak rumah di Jalan Jaksa dan di Kawasan Kebon Sirih.
Bahkan, saking banyaknya yang menginap, ada turis yang tidur menggunakan sleeping bag di ruang tamu.
"Tahun-tahun itu kita sudah kewalahan. Sampai kita mengontrak karena bule yang penting aman. Bahkan, ada yang sampai tidur di ruang tamu menggunakan sleeping bag karena enggak tertampung," kenangnya.
Pengelola hostel ini, Yanu yang sudah bekerja sejak masa ayah Boy, menambahkan ramainya Wisma Delima kala itu tak terlepas dari lokasinya yang strategis.
Sebab, lokasi Wisma ini berdekatan dengan Stasiun Gambir, Terminal Bus yang kala itu masih di Lapangan Banteng dan Bandar Udara Kemayoran.
Ada juga kantor pos yang saat itu sering disambangi turis asing untuk berkomunikasi.