Antisipasi Virus Corona di Depok

Lonjakan Pasien Covid-19 di Depok Tak Terkendali: Tempat Isolasi dan ICU Penuh

Penularan Covid-19 yang tak terkendali membuat rumah sakit sebagai hilir penanganan pandemi ibarat kedatangan banjir bandang

Editor: Erik Sinaga
Tribunnews.com
RSUD Kota Depok 

Namun, kecepatan menambah kapasitas rumah sakit -yang harus berjalan paralel dengan mempersiapkan alat-alat, obat, hingga tenaga kesehatan-memang kalah jauh ketimbang penularan virus SARS-CoV-2 yang bertambah secara eksponensial.

"Pokoknya begitu (ruangan isolasi) ditambah, langsung habis tuh," ujar Devi kepada Kompas.com, Rabu lalu.

Devi juga angkat bicara soal penumpukan pasien di IGD RSUD Kota Depok. Menurut dia, selain karena kapasitas ruang perawatan dan ICU Covid-19 yang makin tipis, para pasien yang datang juga banyak berstatus suspect.

Artinya, mereka dicurigai telah terinfeksi virus SARS-CoV-2 (yang menyebabkan penyakit infeksi pernapasan Covid-19) menilik gejala-gejala yang mereka derita, tetapi tanpa bukti tes PCR positif Covid-19.

"Dia datang ya kami swab (PCR) dulu. Gejalanya Covid-19 saat dia datang, seperti demam, batuk, hilang indra penciuman. Tapi karena dia datang tidak membawa hasil swab, jadi ya kami tumpuk lah di IGD, karena kami mau masukkan ke ruang mana, kami juga bingung," ujar Devi.

Dalam beberapa kasus, pasien-pasien yang datang hanya berbekal surat keterangan hasil tes antigen yang bukan metode penegakan diagnosis.

Rumah sakit pun tetap harus melakukan tes PCR kepada pasien bersangkutan sebagai validasi, sebelum dapat memutuskan ruangan mana yang akan ditempati pasien itu.

"Kalau enggak kan campur-campur, lalu ternyata dia Covid-19," kata Devi.

Ia menjelaskan, asal mencampur pasien adalah tindakan berbahaya sebab dapat membuat tenaga kesehatan tumbang karena tertular Covid-19. Jika ada perawat yang tumbang, maka kapasitas ruang isolasi pasien Covid-19 terpaksa dikurangi sebab 1 perawat menangani 7 pasien sekaligus.

Yang lebih mengkhawatirkan dari situasi yang sudah mencemaskan ini adalah bahwa kondisinya belum tiba di puncak pandemi. Grafik pandemi masih akan terus mendaki hingga ketinggian yang belum dapat dibayangkan.

Penularan secara besar-besaran masih terjadi di tengah-tengah masyarakat. Hal itu tercermin dari tingkat positivitas yang masih di atas 20 persen. Di saat yang sama, eksekusi PPKM di lapangan masih jauh panggang dari api.

Jika tak ada intervensi serius di hulu penanganan pandemi, kolapsnya rumah sakit semakin nyata.

Sebagai dokter, Amelia hanya bisa berharap masyarakat disiplin melaksanakan protokol kesehatan.

BWF World Tour Finals 2020: Ginting Tersingkir, Peluang 4 Wakil Indonesia Lolos Ditentukan Hari Ini

Heboh Berpesta Usai Vaksin Pertama, Raffi Ahmad Dipanggil Jokowi Lalu Ucap Terima Kasih & Mohon Maaf

Prediksi Cuaca dari BMKG, Jumat 29 Januari 2021: Waspada 2 Wilayah Ini Berpotensi Angin Kencang

"Bulan Juni-Juli 2020 itu kasus Jabodetabek sangat rendah. Saat itu, masyarakat disiplin menjaga, tidak berkerumun, mobilitas dan interaksi dibatasi, serta selalu menggunakan masker. Alangkah baiknya kita mengulang hal itu lagi," ujar Amelia.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved