Sisi Lain Metropolitan

Kisah Berdirinya Kafe New Memories di Jalan Jaksa: Berawal dari Garasi Rumah

Kejayaan kafe New Memories kala itu berawal dari sebuah garasi rumah nomor 17 milik Haji Helmi.

Tayang:
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Suasana sepi di Kafe New Memories di Jalan Jaksa, Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (1/2/2021). 

"Dulu karyawan saya tiga shift total 24 orang. Satu shift 8 orang. Kita dulu buka 24 jam," lanjutnya.

Bahkan, dalam satu bulan ia bisa menghabiskan 500 krat bir. Minuman berakohol itu pun tergolong murah bagi kocek para turis.

Tak hanya para turis, banyak kalangan artis ternama yang singgah di sini untuk sekadar kongkow bareng.

Cerita Pemilik Kafe Pertama di Jalan Jaksa, Usaha Babak Belur Dihajar Pandemi

11 Halte Bus Transjakarta akan Direvonasi, Berikut Daftarnya

Waduk Tiu Meluap, Kawasan Sekitar Tergenang Air Setinggi 20 Cm

Sosok Haji Helmi (65), Pemilik Kafe New Memories di Jalan Jaksa, Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (1/2/2021).
Sosok Haji Helmi (65), Pemilik Kafe New Memories di Jalan Jaksa, Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (1/2/2021). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Senjakala Kafe New Memories

Usaha Kafe New Memories di Jalan Jaksa kini berada di ujung tanduk.

Pemandangan bule-bule yang kerap menyambangi kafe ini sudah tak terlihat lagi.

Sang pemilik kafe, Helmi Zain (64) mengaku buntung. Hanya tinggal menunggu waktu saja usahanya segera gulung tikar.

Saat senja perlahan mulai menggantikan siang hari, suasana Jalan Jaksa di Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, tampak sepi. 

Segelintir pejalan kaki saja yang terlihat melintas. Itu pun bukan dari turis asing melainkan orang lokal.

Sepinya sepanjang Jalan Jaksa seirama dengan suasana di dalam Kafe New Memories. Saat saya berkunjung ke kafe di Jalan Jaksa itu, terlihat tiga orang pengunjung dan beberapa karyawan.

Sebuah lagu Tennessee Waltz bernada slowyang menggema dari pengeras suara tua di sudut ruangan seakan menemani kesepian di ruang itu.

Saat memasuki area dalam kafe, terlihat sejumlah bangku-bangku dan meja usang masih digunakan bagi para pengunjung. 

Sementara di salah satu sudut ruangan, sebuah tempat live musik berubah menjadi "kuburan" bagi bangku-bangku yang tak lagi dipakai. Bangku-bangku itu ditumpuk dan dijejerkan di atas panggung.

Suasana di lantai dua segendang sepenarian. Seorang karyawan Haji Helmi mengantarkan saya ke atas. Terlihat meja biliar tempat para turis bermain bola sodok kini terselimuti terpal putih. 

Meja-meja dan bangku tak terpakai di dinding banyak yang sobek dan berdebu.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved