Mengenal Operasi Hybrid, Tindakan Bagi Pasien Diseksi Aorta yang Tingkat Pemulihannya Lebih Cepat
Yang membedakan operasi ini dengan lainnya, adalah operasi ini melibatkan banyak ahli, alat yang canggih, juga strategi khusus yang harus dilakukan
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Sakit jantung, umumnya ditandai dengan gejala nyeri dada dan sesak nafas.
Namun dari banyaknya jenis penyakit jantung, penyebab serta langkah penanganannya juga berbeda-beda.
Pada beberapa kasus, gejala mirip serangan jantung seperti rasa nyeri dada dan sesak nafas juga bisa timbul karena diseksi aorta, atau robeknya pembuluh darah yang bernama aorta.
"Pembuluh darah yang besar ini bisa mengalami robekan dan menimbulkan keluhan yang bermacam-macam," kata Dokter Jantung, Spesialis Intervensi Kardiologi dan Vaskular, Dokter Suko Ardiarto dari Heartology Cardiovascular Center Brawijaya Hospital, baru-baru ini.
Pembuluh darah aorta, merupakan pembuluh darah yang paling besar di tubuh kita dan terletak memanjang dari jantung hingga ke bagian perut bawah.
Aorta berfungsi untuk mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh.
Robekan yang terjadi pada cabang aorta yang menuju pembuluh darah ke otak, juga bisa menimbulkan gejala menyerupai stroke.
Meski masih jarang diketahui orang, namun penyakit ini bisa menjadi mematikan jika terlambat ditangani.
Untuk mengatasi penyakit diseksi aorta ini, salah satu langkah yang direkomendasikan adalah operasi hybrid.
Berbeda dengan operasi jantung lain, operasi jenis ini mempunyai derajat pengawasan intensif yang lebih
kompleks.
Meski begitu, tim dokter dari Heartology Cardiovascular Center Brawijaya Hospital mengatakan ada beberapa manfaat operasi hybrid bagi pasien.
Diantaranya seperti tindakan diagnostik, intervensi dan pembedahan dilakukan pada saat yang sama, tingkat keamanan dan hasil klinis yang lebih baik, mencegah penundaan tindakan, juga pemulihan yang lebih cepat.
"Operasi jenis ini mempunyai derajat pengawasan intensif yang lebih kompleks, antara lain adanya perubahan klinis yang sering kali tidak berhubungan dengan fungsi organ yang terlibat. Melainkan disebabkan oleh manuver operasi yang dikerjakan sebelumnya. Inilah sebabnya, harus ada komunikasi intensif antara tim ICU dan dokter bedah," kata dia.
Sebelum operasi, bius umum atau induksi harus dilakukan dengan akurasi yang sangat tinggi.