Kisah Pilu Pariyem Mengais Sisa Makanan dari Tong Sampah Hingga 8 Tahun Tak Digaji Majikan

Pariyem, seorang ART di Probolinggo mengalami kejadian nahas. Pariyem terpaksa loncat dari lantai 2 rumah majikan demi mendapatkan makanan.

KOMPAS.com/A. Faisol
Pariyem bersama putrinya yang berusia 12 tahun. Pariyem, seorang asisten rumah tangga di Probolinggo mengalami kejadian nahas. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pariyem, seorang Asisten Rumah Tangga di Probolinggo mengalami kejadian nahas.

Pariyem terpaksa loncat dari lantai 2 rumah majikan demi mendapatkan makan.

Ia pun mengais sisa makanan dari tong sampah. Selain itu, Pariyem mengaku mendapatkan kekerasan dari majikan dan gajinya belum dibayar selama 8 tahun.

Tercatat, ia menerima gaji sebesar Rp 12 juta selama 8 tahun.

“Kemarin dikasih (gaji), sekitar Rp 12 jutaan. Saya baru tahu, bilangnya digaji Rp 300.000 per bulan. Baru tahu (digaji Rp 300.000/bulan). Memang enggak ada perjanjian dulu (waktu awal kerja),” kata Pariyem, saat ditemui di rumah anak tirinya di Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Rabu (17/2/2021).

Pariyem mengaku sering dipukul menggunakan sandal atau sepatu di bagian kepala.

“Dulu saya sering dapat perlakukan kasar. Dulu sering dipukul, tiap hari dipukul. Dipukul pakai sandal, kadang pakai sepatu. Dipukul seadanya sudah (pakai alat yang ada waktu itu). Bagian kepala yang sering dipukul,” kata Pariyem.

Pariyem dipukul majikannya ketika ada pekerjaan rumah tangga yang dinilai tidak cocok oleh majikannya.

Misalnya, saat ngepel lantai. Jika tidak cocok, Pariyem dipukuli majikannya.

Sementara itu, alasannya melompat dari lantai dua rumah majikan, karena terpaksa sebab ia kelaparan.

Ketika melompat dan mengais makanan di tong sampah, warga kemudian mengikuti dan mengetahui kondisi Pariyem selama di rumah majikannya.

“Saya terpaksa (melompat ke luar), takut enggak dikasih makan keesokan harinya. Sengaja tidak lewat pintu, karena pintu dikunci. Ada anaknya yang jaga. Saya tak berani keluar. Saya keluar karena lapar. Kalau tidak minta, saya tidak dikasih makan. Sering tidak dikasih makan. Saya memang tidak mau minta makan sudah,” kata Pariyem.

Candra, anak tiri Pariyem, mengaku sudah lama mencari keberadaan ibu tirinya itu.

Usai dipergoki warga mengais makanan di tong sampah setelah melompat dari rumah lantai dua, Candra membawa Pariyem ke rumahnya.

“Kata ibu, majikan nyonya itu yang jahat. Kerja di sana sekitar delapan tahunan. Enggak ada kontak sama sekali. Memang enggak pernah ketemu. Selama ini saya tidak tahu kalau di sana,” ujar Candra.

Di tempat terpisah, U, majikan pria Pariyem, membantah Pariyem tidak pernah diberi makan.

Menurutnya, Pariyem tidak sampai kelaparan.

Selalu ada makanan di rumahnya yang bisa dikonsumsi Pariyem.

“Itu tidak benar. Semua kebutuhan dia, kami penuhi, termasuk makannya, sehari tiga kali. Kalau ada makanan, kue misalnya, kami kasih. Gaji bukannya tidak diberikan. Tapi, kami kasihkan tabungan. Kemarin uang gajinya kami tarik di tabungan dan diberikan sepenuhnya. Dan yang bersangkutan sudah buat surat pernyataan dan tidak akan menuntut, sudah klir semua,” terang U.

Majikannya adalah pasangan suami istri U dan M.

Rumah yang ditempati U dan M milik seorang pengusaha.

Loncat dari Lantai 2 karena Kelaparan

Pariyem (44) seorang asisten rumah tangga di Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo terpaksa lompat dari lantai 2 rumah majikannya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (16/2/2021) dini hari.

Pariyem terpaksa melompat dari lantai dua karena kelaparan.

Selama ini ia dan anaknya yang berusia 12 tahun tinggal bersama majikannya pasangan suami istri I dan M yang dikenal sebagai pengusaha.

Mengais Sisa Makanan di Tong Sampah

Setelah lompat dari lantai 2 rumah majikannya, Pariyem berjalan ke tong sampah dekat pizzat hut yang tak jauh dari rumah majikannya.

Ia kemudian mengais sisa makanan untuk dimakan. Kejadian tersebut diketahui oleh warga.

Karena curiga, warga kemudian menanyakan kejadian detail yang dialami oleh Pariyem.

Kepada warga, Pariyem mengaku kelaparan dan kerap keluar mencari makan di tong sampah.

Selain itu, Pariyem juga mengaku gajinya sebagai asisten rumah tangga selama bertahun-tahun tak dibayarkan.

Total gaji yang belum diterima Pariyem sebanyak Rp 12 juta.

Hal tersebut dijelaskan oleh Plh Kapolsek Mayangan AKP Suharsono.

“Dia melompat karena mencari makanan dan kelaparan. Karena curiga, warga lalu menggali informasi kepada Pariyem."

"Pariyem menceritakan bahwa dia kelaparan saat bekerja di rumah majikannya sehingga kerap mencari sisa makanan di tong sampah. Serta gajinya sebagai pembantu salama bertahun-tahun juga lama tidak diberikan,” kata Suharsono, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (17/2/2021).

Mediasi

Setelah kasus tersebut diketahui warga, Pariyem dan anaknya yang berusia 12 tahun keluar dari rumah majikan dan tinggal di rumah anak tiri Pariyem di Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan.

Kemudian Babinkamtibmas dan forkopimka lalu melakukan mediasi antara Pariyem dan pihak U dan M.

Kedua belah pihak sepakat berdamai dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.

U juga telah membayar gaji Pariyem yang sebelumnya belum dibayarkan sekitar Rp 12 juta lebih.

U beralasan gaji itu Pariyem ditabungkan olehnya agar Pariyem punya tabungan.

“Kedua belah pihak sepakat, sudah tak ada masalah. Semuanya selesai saat mediasi itu. Ada hitam di atas putih,” kata Suharsono.

Baca juga: Menteri Sosial Tri Rismaharini Mengaku Bisa Pencak Silat: Tapi Bukan Buat Gaya-gayaan

Baca juga: Selain Tidak Merokok, Sederet Hal Ini Juga Bisa Mencegah Masalah Gangguan Kesuburan

Baca juga: 302 Kilogram Sabu Dimusnahkan Sat Narkoba Polrestro Depok

Lapor ke Polisi

Namun ternyata, Selasa (16/2/2021) malam, sejumlah warga menemui Pariyem.

Mereka kemudian membawa Pariyem ke Mapolres Probolinggo KOta untuk melaporkan U atas kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Hal tersebut dilakukan karena Pariyem mengaku mendapatkan kekerasan saat bekerja di rumah U.

Suharsono mengatakan laporan ke polisi bukan inisiatif Pariyem tapi warga sekitar.

“Ketua RT yang laporan itu. Pariyem mengaku takut karena didatangi warga, sehingga berangkat dan laporan ke Polres."

"Yang dilaporkan kasus KDRT. Biasanya keluarga yang laporan, tapi ini warga yang laporan bersama pariyem,” ujar Suharsono.

Laporan tersebut kini sudah diterima oleh Polsek Mayangan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kronologi Pariyem Lompat dari Lantai 2 Rumah Majikan karena Kelaparan, Gaji Rp 12 Juta Belum Dibayarkan", .

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengakuan Pariyem, 8 Tahun Kerja ART Tidak Digaji, Dipukul Majikan, Sering Tak Dikasih Makan", 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved