Terpaksa Jadi PSK Walau Hamil Tua, Wanita Muda di Tasikmalaya Ngaku Butuh Biaya Buat Anak Sekolah
Kesulitan ekonomi membuat TL, wanita berusia 21 tahun terpaksa menjadi perempuan bayaran.
Penulis: Siti Nawiroh | Editor: Siti Nawiroh
Tak hanya sekali TL terjaring razia petugas, ia juga pernah kedapatan petugas saat mangkal di depan sebuah hotel di Tasikmalaya.

TL bercerita, pria yang menjadi tamunya selama pandemi tak begitu banyak.
Bahkan tak jarang, TL sama sekali tak menggaet pria hidup belang dalam sehari.
TL pun mengaku setiap malam di masa pandemi ini hanya mendapatkan uang Rp 100.000 sampai Rp 150.000.
"Tiap malam juga sepi, paling dapat satu orang, kadang enggak,"
Baca juga: Bentak Cinta Sampai Kejer, Uya Kuya Beri Hadiah Mewah untuk Putrinya: Maaf Kamu Ultah Papah Sakit
"Mereka tahu saya hamil dan katanya pengen sekali sama orang hamil kayak saya," sambung TL.
Siapa sangka, pekerja seks komersial (PSK) dengan kondisi hamil tua menjadi salah satu tren baru bisnis "esek-esek" kelas bawah di Kota Tasikmalaya.
Satpol PP juga menjaring perempuan hamil tua lainnya yang menjajakan diri di trotoar.
Perempuan tersebut bahkan didampingi suaminya.
Baca juga: Lewati Kritis Covid-19, Ashanty Berpesan ke Penyebar Hoaks Dirinya Wafat: Masih Diberi Kesempatan
Sementara itu, Kepala Seksi Dal Ops PP Kota Tasikmalaya Sandi A Suguh membenarkan bahwa ada dua PSK jalanan yang terjaring razia Tim Patroli Rutin dan langsung dibawa ke markas untuk didata dan dibina.
Keduanya berasal dari wilayah Kota Tasikmalaya dan sengaja datang ke lokasi mangkal setiap malam.
"Mereka ada yang pernah ditangkap dan dilakukan pembinaan, tapi mereka melakukannya lagi. Kami pun akan terus melakukan operasi rutin untuk memberantas jenis-jenis penyakit masyarakat," pungkasnya.
Follow juga:
Cerita wanita bayaran lain
Dalam sehari, Leida (bukan nama sebenarnya) wanita berusia 18 tahun bisa melayani 4 sampai 5 pria hidung belang.