Lansia Sering Tak Nafsu Makan? Bisa Jadi Karena Gangguan Pencernaan, Simak Penjelasan Dokter
Menurunnya selera makan pada lansia mungkin jadi permasalahan yang banyak dialami. Bisa disebabkan gangguan saluran pencernaan
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Erik Sinaga
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Menurunnya selera makan pada lansia mungkin jadi permasalahan yang banyak dialami.
Salah satu penyebabnya, bisa dikarenakan menurunnya fungsi organ di dalam tubuh termaksud saluran pencernaan.
Seperti yang diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Geriatri Eka Hospital Bekasi, Kuntjoro Harimurti.
"Pencernaan manusia melibatkan banyak organ mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus dan usus besar, hingga anus," kata dia dalam keterangan Eka Hospital, Selasa (23/3/2021).
Pada dasarnya, pencernaan manusia tak hanya sekedar lambung dan usus saja.
Tetapi melibatkan banyak organ, mulai dari mulut sampai ke anus. Saluran pencernaan ini dikelilingi oleh organ-organ pendukung lain.
"Contohnya usus yang dikelilingi oleh pankreas atau kelenjar liur, hati, dan kantung empedu. Semua organ ini bekerjasama mendukung tubuh yang disebut sistem saluran pencernaan," ungkapnya.
dr Kuntjoro menjelaskan, bahwa seiring bertambahnya usia maka fungsi organ tubuh juga akan semakin menurun.
Kemampuan indera perasa akan menurun dan sering tersedak ketika menelan karena otot-otot di kerongkongan yang ikut melemah.
Hal ini diikuti dengan berkurangnya jumlah kelenjar liur yang berfungsi menghasilkan air liur untuk membantu menghancurkan makanan yang masuk ke dalam mulut dan memudahkan proses menelan.
Selain itu pergerakan usus atau lambung pada lansia juga melambat, sehingga proses pencernaan makanan menurun.
"Hal ini yang menyebabkan lansia sering tidak nafsu makan atau kurang asupan nutrisi karena perut terasa kenyang dalam waktu yang cukup lama," imbuhnya.
Ada beberapa jenis gangguan pencernaan yang bisa terjadi pada lansia.
Gangguan pencernaan berdasarkan lokasi terdiri dari gangguan mengunyah, gangguan menelan, gangguan di lambung atau maag, juga gangguan di usus yang mengakibatkan diare maupun sulit buang air besar.
Baca juga: Ramalan Zodiak Besok Rabu, 24 Maret 2021: Hari yang Krusial untuk Cancer, Leo Kurangi Pengeluaran
Baca juga: 3 Cara Mengobati Gusi Bengkak akibat Gigi Berlubang, Kamu Patut Catat!
Sementara gangguan cerna berdasarkan penyebab, bisa terjadi akibat infeksi bakteri, virus atau jamur yang menyebabkan diare, peradangan di lambung, luka di lambung, konsumsi makanan yang tidak tepat, tumor atau kanker di saluran cerna.
Menurut dr Kuntjoro, gangguan saluran cerna pada lansia dapat terjadi karena pembentukan pola hidup yang tidak sehat sejak masih muda, terutama dari makanan yang dikonsumsi.
Selain itu, konsumsi obat-obatan dari penyakit penyerta juga dapat memicu gangguan pencernaan karena efek samping dari obat tersebut.
"Seperti mengonsumsi obat jantung atau rematik," katanya.
Untuk mengatasi masalah pencernaan pada lansia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Diantaranya dengan mengenali penyebabnya dan lakukan pemeriksaan untuk ditangani dengan baik.
Misalnya gangguan menelan, setiap makan atau minum tersedak bisa diobati dengan fisioterapi. Namun jika gangguan terjadi
di lambung maka bisa diperiksa dengan endoskopi.
Konsumsi makanan dengan nutrisi yang cukup dan seimbang. Selain itu, makanan yang dikonsumsi juga yang mudah dicerna, makanan yang lunak, tidak pedas, dan tidak asam.
Kemudian cobalah makan dengan jumlah yang sedikit tapi dengan frekuensi yang lebih sering.
Baca juga: 58 Tempat Karaoke Ajukan Izin Pembukaan Saat Pandemi Covid-19, Anak Buah Anies: Semuanya Ditolak
Baca juga: 1.500 Karyawan Mall Ditargetkan Terima Vaksin Dalam Dua Hari di Kota Depok
Adapun cara menjaga kesehatan dari gangguan cerna dengan konsumsi makanan yang bernutrisi lengkap dan seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, sayuran, dan buah-buahan.
Namun, jika ada penyakit bawaan seperti diabetes misalnya maka konsumsi karbohidrat harus dikurangi atau disesuaikan agar asupan gula tidak berlebihan.
Konsultasi dengan ahli gizi untuk mengetahui berapa banyak makanan yang harus dikonsumsi, jenis makanannya apa saja, dan dibagi berapa kali dalam satu hari agar kebutuhan nutrisi tetap sesuai dan seimbang walaupun frekuensi makan bertambah dengan porsi yang lebih kecil.
"Konsumsi suplemen atau vitamin diperbolehkan, tapi hanya sebagai tambahan saja, yang utama
tetap dari makanan," ungkapnya.