Bom di Makassar

Legislator Golkar Dapil V Jateng Kutuk Keras Serangan Bom di Depan Katedral Makassar

Hal tersebut mengundang simpati berbagai pihak, termasuk para anggota DPR RI dari pabtai Golkar Daerah Pilihan (Dapil) Jawa Tengah.

Editor: Wahyu Aji
ISTIMEWA
Anggota Komisi VI DPR RI Singgih Januratmoko menghelat sosialisasi empat pilar di Kabupaten Klaten, pada Sabtu (2/1/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan bom bunuh diri yang ditujukan ke Gereja Katedral Makassar, mengakibatkan sembilan orang terluka dan seorang tewas, yakni pelaku pembom bunuh diri.

Hal tersebut mengundang simpati berbagai pihak, termasuk para anggota DPR RI dari pabtai Golkar Daerah Pilihan (Dapil) Jawa Tengah.

“Kami mengutuk keras serangan terorisme yang menyasar ke tempat ibadah. Hal itu bisa memecah belah persatuan dan kerukunan antarumat beragama,” kata Singgih Januratmoko Anggota DPR RI Fraksi Golkar dari Dapil V Jawa Tengah,  Senin (29/3/2021).

Singgih berharap aparat keamanan TNI dan Polri bisa mengusut tuntas pelaku pemboman.

"Terorisme adalah tindakan untuk membuat orang memiliki perasaan tertekan dan ketakutan. Merupakan kejahatan yang tak bisa dinalar, apabila aksi terorisme dilakukan pada saat pandemi seperti ini," kata Singgih.

Ia menyebut, teror yang dilakukan saat pandemi merupakan kejahatan kemanusiaan.

"Artinya pelaku tak lagi termotivasi ideologi tapi melakukan kejahatan atas kemanusiaan. Saya berharap aparat bisa membongkar jaringan pelaku teror di Makassar tersebut,” ujarnya.

Singgih meminta, para tokoh agama di Makassar dan kota-kota lain dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) atau forum-forum keagamaan lainnya, untuk meningkatkan komunikasi dan kerja sama dalam pengamanan tempat ibadah.

“Aksi ini tentu tak sekadar menyasar umat beragama atas kebencian atau motif-motif lainnya. Agama apapun tak membenarkan aksi teror ini. Untuk itu, perlunya komunikasi untuk meningkatkan kerukunan, persatuan dan kesatuan antar pemeluk agama, agar Indonesia tak pecah oleh fitnah maupun adu domba yang bersifat SARA," kata Singgih.

Persatuan dan kesatuan menurut Singgih merupakan modal sosial dalam membangun negara.

Bila persatuan dan kesatuan retak, tentu Indonesia yang terdiri beragam suku dan agama tak lagi memiliki modal sosial untuk membangun dirinya.

Singgih meminta, warga di Makassar maupun kota-kota lain di Indonesia tak terprovokasi dengan peristiwa tersebut.

"Warga harus tenang agar tenang dan tak terprovokasi sehingga malah memperkeruh suasana. Persantuan dan kesatuan bangsa jangan sampai terganggu oleh aksi terorisme," ujarnya.

Bila warga ketakutan dan emosional, artinya tujuan peneror telah tercapai.

Untuk itu, Singgih meminta ketenangan warga dan meningkatkan kewaspadaan.

Dan menyerahkan pengusutannya kepada aparat keamanan.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved