Breaking News:

Sidang Rizieq Shihab

Kubu Rizieq Shihab Permasalahkan Alat Bukti Laporan Kasus Kerumunan di Megamendung

Tim kuasa hukum Muhammad Rizieq Shihab mempertanyakan laporan Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor Agus Ridhallah

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Anggota tim kuasa hukum Rizieq Shihab, Sugito Atmo Prawiro saat memberi keterangan terkait kasus dugaan tindak pidana karantina kesehatan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (19/4/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Tim kuasa hukum Muhammad Rizieq Shihab mempertanyakan laporan Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor Agus Ridhallah dalam kasus kerumunan warga di Pondok Pesantren Alam Agrokultural.

Anggota tim kuasa hukum Rizieq Shihab, Sugito Atmo Prawiro mengatakan laporan yang dibuat Agus ke Polres Kabupaten Bogor mewakili Satgas Covid-19 janggal karena tidak memiliki alat bukti.

Menurut mereka alat bukti berupa foto-foto kerumunan warga di sekitar Pondok Pesantren pada 13 November 2020 lalu dan surat tugas tidak bisa dijadikan alat bukti laporan pidana.

"Kita sebagai pengacara yang mendampingi kan selalu menuntut bukti. Ini dua alat bukti sudah tidak ada. Hanya foto-foto dan surat tugas. Kita sebutkan itu bukan alat bukti," kata Sugito di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (19/4/2021).

Tim kuasa hukum juga menilai laporan yang kasus kerumunan warga di Pondok Pesantren janggal karena saat perkara ditangani Polres Kabupaten Bogor awalnya Rizieq bukan terlapor.

Baru saat penanganan perkara diambil alih Bareskrim Polri eks pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu berstatus terlapor kasus dugaan tindak pidana karantina kesehatan di Megamendung.

"Kita tanyakan (ke saksi) apakah laporan seperti itu langsung diterima? Katanya (saksi) langsung diterima (polisi). Bagaimana pelaporan kok sesimpel itu. Padahal kalau kita mau melapor kan harus ada kajian apakah ini perlu diterima atau tidak," ujarnya.

Anggota tim kuasa hukum Rizieq lainnya, Aziz Yanuar menuturkan alat bukti berupa foto kerumunan warga di wilayah Gadog harusnya tidak bisa digunakan dalam kasus kerumunan di Megamendung.

Alasannya wilayah Gadog lokasi massa berkumpul dengan Pondok Pesantren Alam Agrokultural di Megamendung terpisah atau yang disebut Rizieq berjarak sekitar 12 kilometer.

Baca juga: Persija Lawan Persib di Final Piala Menpora, Panitia Minta Suporter Tidak Gelar Nobar

Baca juga: 115 Kendaraan di Bekasi Terjaring Kena Razia Knalpot Bising oleh Jajaran Polres Metro Bekasi Kota

Baca juga: Mancing Uang di Mesin ATM, 4 Orang Komplotan Maling di Bekasi Diciduk Polisi

Saat kejadian pada 13 November 2020 lalu menurut tim kuasa hukum massa yang datang secara spontan juga tidak sampai memasuki area Pondok Pesantren Alam Agrokultural Megamendung.

"Dia melapor tidak ada terlapor dan buktinya (kerumunan warga) bukti di Gadog. Tapi bukti yang keluar ada habib Rizieq sebagai terlapor dan Markaz Syariah (area Pondok Pesantren Alam Agrokultural Megamendung)," tutur Aziz.

Sebagai informasi dalam kasus kerumunan warga di Pondok Pesantren Alam Agrokultural Megamendung Rizieq didakwa melanggar protokol kesehatan karena adanya kerumunan warga.

Kerumunan warga yang mencapai sekitar 3.000 orang itu terjadi pada 13 November 2020 saat kegiatan penyambutan dan peletakan batu pertama pembangunan Markaz Syariah di Pondok Pesantren.

Rizieq juga dianggap bersalah karena meski tiba di Indonesia pada 10 November 2020 setelah sekitar tiga tahun berada di Arab Saudi namun tidak melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved