Breaking News:

Curhat Sopir Bus AKAP saat Pandemi Covid-19: Bertengkar dengan Istri Karena Tak Bawa Uang

Masalah rumah tangga imbas faktor ekonomi selama pandemi Covid-19 ikut dirasakan para awak bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Bima Putra
Bus AKAP dari sejumlah PO di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Jumat (23/4/2021) - Masalah rumah tangga imbas faktor ekonomi selama pandemi Covid-19 ikut dirasakan para awak bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Masalah rumah tangga imbas faktor ekonomi selama pandemi Covid-19 ikut dirasakan para awak bus antar kota antar provinsi (AKAP) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Anjloknya jumlah keberangkatan penumpang dari yang sebelum pandemi berkisar 2.500-3.000 per hari kini menjadi kisaran 400-500 dirasakan betul para awak bus yang tidak memiliki gaji bulanan.

Satu perwakilan perusahaan otobus (PO) di Terminal Kampung Rambutan, Tatang mengatakan selama pandemi banyak awak bus yang bekerja di tempatnya mengeluhkan bertengkar karena uang.

"Banyak sopir curhat mereka di rumah berantem sama istrinya karena masalah uang. Pulang bawa enggak bawa uang berantem sama istrinya, bawa uang sedikit berantem," kata Tatang di Terminal Jakarta Timur, Minggu (25/4/2021).

Meski tak membeberkan ada atau tidak awak bus di bawah naungan PO dikelolanya yang bercerai karena masalah ekonomi, diakuinya masalah ekonomi keluarga sangat membebani pikiran.

Kondisi di area keberangkatan Terminal Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/4/2021).
Kondisi di area keberangkatan Terminal Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/4/2021). (TribunJakarta.com/Bima Putra)

Sebagai pria yang sudah berkeluarga dan pemasukannya ikut terdampak karena pandemi Covid-19, Tatang sendiri mengaku bingung harus memberi saran apa kepada awak bus selain bersabar.

"Masalah ekonomi untuk orang yang sudah berkeluarga ini memang sensitif banget. Kalau enggak kuat iman ya keluarga bisa hancur. Pulang kerja capek, di rumah berantem, berat banget pasti," ujarnya.

Baca juga: Dukung Persija, Petugas PPSU Pondok Pinang Pasang Spanduk di Kantor Kelurahan

Baca juga: Dijadikan Lokasi Isolasi WN India yang Positif Covid-19, Begini Suasana Hotel Hariston

Baca juga: Perjuangan Ibu Bawa Putranya Pakai Becak Sia-sia, Ditolak & Diusir dari RS Diduga Akibat Covid-19

Bayang-bayang masalah ekonomi rumah tangga yang merundung dikatakan Tatang kian berat karena adanya larangan mudik pada tanggal 6-17 Mei 2021 mendatang guna mencegah penularan Covid-19.

Harapan mereka meraup untung lebih pada momen mudik Idul Fitri 1442 Hijriah kandas karena pemerintah menetapkan operasional bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan dihentikan.

"Bukannya kita enggak percaya kalau Tuhan sudah mengatur rezeki, tapi kalau kita enggak kerja juga ya mau dapat duit darimana? Sementara bantuan dari pemerintah saja enggak ada," tuturnya.

Tatang mengatakan di awal pandemi Covid-19 pemerintah memang memberikan bantuan materil bagi para awak bus, namun tidak rutin setiap bulan dan pembagiannya dirasa tak merata.

Mereka masih berharap pemerintah mempertimbangkan keputusan larangan mudik karena menyangkut pemasukan banyak warga di Terminal, dari awak bus AKAP hingga pedagang.

"Mudik boleh pun mungkin tetap enggak banyak membantu karena penumpang dibatasi. Tapi setidaknya kita pulang ke rumah masih bisa bawa uang, masih bisa buat makan walaupun enggak makan daging," lanjut Tatang.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved