Breaking News:

Karyawan Bus Singgung Nihilnya Bantuan Pemerintah Saat Larangan Mudik

Ketua Kowanbisata di Terminal Kampung Rambutan, Ridwan mengatakan kebijakan dirasa memberatkan karena ketiadaan bantuan dari pemerintah bagi karyawan

TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Ketua Koperasi Karyawan Bis Antar Kota (Kowanbisata) H Ridwan saat diwawancarai terkait kebijakan larangan mudik Lebaran, Selasa (4/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Koperasi Karyawan Bis Antar Kota (Kowanbisata) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur menyinggung kebijakan larangan mudik pada 6-17 Mei 2021.

Meski mengaku setuju dengan larangan mudik pada Idul Fitri 1442 Hijriah yang ditetapkan pemerintah guna mencegah penularan Covid-19 meluas ke berbagai Provinsi.

Ketua Kowanbisata di Terminal Kampung Rambutan, Ridwan mengatakan kebijakan dirasa memberatkan karena ketiadaan bantuan dari pemerintah bagi karyawan PO yang mengandalkan penghasilan per hari.

"Kalau dari pemerintah enggak ada ya. Karena karyawan kami 11 hari tidak bekerja, kami untuk membantu mereka memberikan bingkisan sembako," kata Ridwan di Terminal Kampung Rambutan, Selasa (4/5/2021).

Di Terminal Kampung Rambutan tercatat ada sekitar 500 karyawan PO yang tergabung di Kowanbisata dan kini bingung cara mendapat penghasilan selama larangan mudik.

Baca juga: Viral Jemaah Masjid Dilarang Pakai Masker, DPRD Kota Bekasi Nilai Sosialisasi Prokes Masih Lemah

Baca juga: SIKM Segera Diterbitkan, Wagub Sebut Pembuatannya Kini Bisa di Kelurahan

Baca juga: Sempat Ditahan Terkait Terkait Demo Hardiknas, Ketua BEM FH UI Dipulangkan ke Rumah

Pengurus Kowanbisata Terminal Kampung Rambutan mengaku hanya bisa menyarankan para karyawannya untuk berusaha mencari penghasilan sampingan selama larangan mudik berlaku.

"Enggak ada (saran ke karyawan mencari penghasilan saat larangan mudik). Paling ya kalau yang di rumahnya istri jualan buka warung, atau ada yang mau ngojek, alternatifnya ngojek," ujarnya.

Ridwan mengaku sebenarnya keberatan dengan larangan mudik karena tanpa adanya kebijakan pandemi Covid-19 sudah membuat penghasilan para PO di Terminal Kampung Rambutan anjlok.

Penyebabnya jumlah keberangkatan anjlok semenjak pandemi Covid-19 melanda, dari yang sebelumnya per hari berkisar 2.000-3.000 penumpang kini menjadi kisaran 1.000 penumpang.

"Sebetulnya dalam hati batin kecil sih menolak (larangan mudik), tapi aturan pemerintah. Harus kita ikuti, ya kita kan di bawah naungan pemerintah," tuturnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved