Kepsek Bantah DO Siswi SMA yang Hina Palestina, Akui Khawatirkan Hal Ini:Kami Kembalikan ke Orangtua

Kepala SMA Negeri 1 Kabupaten Bengkulu membantah telah mengeluarkan siswi yang membuat konten berisi hinaan terhadap negara Palestina.

Editor: Muji Lestari
Kolase TribunJakarta.com
Kepala SMA Negeri 1 Kabupaten Bengkulu bantah keluarkan siswi yang unggah konten hina Palestina. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Kepala SMA Negeri 1 Kabupaten Bengkulu membantah telah mengeluarkan siswi yang membuat konten berisi hinaan terhadap negara Palestina.

Kasus siswi SMA di Bengkulu Tengah yang diduga dikeluarkan dari sekolah karena membuat video menghina Palestina terus menjadi sorotan.

Pihak sekolah pun membantah ada pernyataan soal sekolah yang mengeluarkan siswi tersebut.

Menurutnya, siswi yang bersangkutan diminta untuk sementara tidak sekolah untuk mendapat bimbingan orangtua.

"Bahwa mengenai kasus video viral mengenai anak didik kami, saya tidak pernah ucapkan, mengeluarkan atau men-drop out anak tersebut," ujar Kepsek, kepada wartawan, Kamis.

"Untuk saat ini, karena masih Covid-19, ananda itu kami kembalikan dulu ke orangtuanya untuk dibina, karena kami khawatir psikologisnya terganggu dengan pemberitaan yang begitu besar," tambahnya.

Baca juga: Siswi SMA Bengkulu yang Hina Palestina Berakhir DO, KPAI Beri Kritik: Bukan Penyelesaian Terbaik

Eka menambahkan, pihaknya juga akan mendukung keputusan keluarga siswi apabila ingin tetap bersekolah di SMAN 1.

Hal itu juga sesuai dengan imbauan dari Gubernur Bengkulu Tengah Rohidin Mersyah.

"Bapak Gubernur juga sudah memastikan bahwa hak pendidikan anak ini akan tetap bisa bersekolah di manapun yang diinginkannya," kata dia.

Sikap Orangtua

Baca juga: Ultah Anak Berubah jadi Mencekam, Suami Bacok Istri karena Cemburu Buta Merasa Diselingkuhi

Baca juga: Lihat Mantan Istri Punya Kekasih Baru, Pria Ini Cemburu Lalu Kirim Video Siksa Putrinya hingga Viral

Baca juga: Sedang Asyik Makan Kue Lebaran, Rangga Perampok dan Pemerkosa Bocah di Bekasi Didatangi Polisi

Orangtua MS, siswi SMA di Bengkulu berharap agar kasus anaknya tidak diperpanjang karena dikhawatirkan berdampak terhadap psikologis MS.

Seperti diketahui MS viral karena videonya yang dianggap menghina Palestina.

Video MS tersebut mendapat kecaman dari masyarakat hingga akhirnya pelajar tersebut meminta maaf.

"Keluarga meminta kasus ini jangan diperpanjang lagi agar anak mereka tidak terus tertekan atas sanksi sosial yang telah mereka terima," ucap Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi Bengkulu, Ainul Mardiati dalam penjelasannya kepada wartawan bersama orangtua MS, Kamis (20/5/2021).

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved