Breaking News:

Puskesmas Ingatkan Warga Fogging Bukan Langkah Mencegah DBD

fogging atau penyemprotan insektisida bukan langkah mencegah penyakit demam berdarah dengeu (DBD).

Penulis: Bima Putra | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Bima Putra
Petugas Puskesmas Kecamatan Ciracas saat melakukan fogging atau penyemprotan inteksida di permukiman warga Kelurahan Rambutan, Jakarta Timur, Rabu (16/6/2021) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur menegaskan fogging atau penyemprotan insektisida bukan langkah mencegah penyakit demam berdarah dengeu (DBD).

Meski pada Rabu (16/6/2021) melakukan fogging di permukiman warga RT 12/RW 06 Kelurahan Rambutan karena kasus dua warga terjangkit DBD yang kini masih menjalani perawatan.

Kepala Puskesmas Kecamatan Ciracas Santayana mengatakan fogging tersebut bukan termasuk langkah mencegah penularan DBD yang diakibatkan gigitan nyamuk aedes aegypti.

"Fogging bukan pencegahan. Tetap pencegahannya adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M," kata Santayana saat dikonfirmasi di Ciracas, Jakarta Timur, Rabu (16/6/2021).

Alasannya fogging yang dilakukan dengan pengasapan di rumah hingga saluran air tidak membunuh jentik nyamuk aedes aegypti, hanya mampu membunuh nyamuk aedes aegypti dewasa.

Baca juga: Kesal Rumah Berantakan, Guru Honorer Jadi Sasaran Amuk Mertua Sampai Nyaris Tewas

Beda dengan 3M yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, lalu mengubur barang bekas yang jadi tempat aedes aegypti berkembang biak sehingga keberadaan jentik dicegah.

"Jikalau jentik tetap ada maka beberapa hari kemudian jentik berubah jadi nyamuk dan menggigit manusia. Lalu apakah wilayah harus difoging terus? Tidak," ujarnya.

Baca juga: Basarnas Umumkan Formasi CPNS Jelang Seleksi CASN 2021, Ada Banyak Formasi untuk Lulusan SMA/SMK

Santayana menuturkan fogging tidak bisa dilakukan terus menerus karena merusak ekosistem lingkungan dan berisiko membuat nyamuk dewasa tahan atau kebal terhadap obat fogging.

Dia menegaskan bahwa fogging hanya dilakukan jika sudah ditemukan warga di satu wilayah terjangkit DBD dan dari penyelidikan epidemiologi Puskesmas ditemukan jentik aedes aegypti.

Baca juga: Anji Manji Jajan Ganja Melalui Situs Ini di Internet, Polisi: Itu dari Amerika

"Setelah di PE (penyelidikan epidemiologi) ketemu jentik maka disebut PE positif. Jadi Foging dilakukan ketika sudah ada kasus DBD lalu dilakukan investigasi kasus dan didapati pengembangbiakan nyamuk," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved