Antisipasi Virus Corona di Depok

Angka Kematian Covid-19 Tinggi, Tim Pemulasaran Jenazah di Depok Kewalahan: Sehari Pernah 45 Peti

Tim pemulasaran jenazah pasien Covid-19 dan suspek Covid-19 di Kota Depok sangat kewalahan sejak sepekan belakangan ini.

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Wahyu Septiana
Dokumentasi Puskesmas Kecamatan Duren Sawit
Ilustrasi pemulasaran jenazah pasien Covid-19 - Tim pemulasaran jenazah pasien Covid-19 dan suspek Covid-19 di Kota Depok sangat kewalahan sejak sepekan belakangan ini. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Dinas Damkar Kota Depok, Denny Romulo, mengungkapkan, tim pemulasaran jenazah pasien Covid-19 dan suspek Covid-19 sangat kewalahan sejak sepekan belakangan ini.

Banyaknya pasien Covid-19 yang meninggal di Kota Depok, membuat tim pemulasaran jenazah ini bekerja ekstra keras.

“Kita kewalahan menangani pemulasaran jenazah, relawannya juga kan butuh imun. Kami khawatir relawan ini nanganin terus menerus, imunnya turun dan terpapar,” jelas Denny pada TribunJakarta melalui sambungan telepon, Selasa (6/7/2021).

“Intinya kami kewalahan karena saking banyaknya yang terpapar, tim pemulasaran jenazah keteteran karena tingkat kematian tinggi Covid-19 dan suspek Covid-19, sampai peti jenazah pun sulit,” timpalnya lagi.

Tingginya angka kematian akibat Covid-19 juga berimbas pada menipisnya stok peti mati di Kota Depok.

Tim Khusus (Timsus) Pemulasaran Ditsamapta Polda Metro Jaya melakukan pemulasaran jenasah korban Covid-19 yakni perempuan berusia 70 tahun yang meninggal dunia di rumahnya di Jalan Petamburan, Kelurahan Petamburan, Kecamatan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (18/4/2020) sore. Hingga kini sudah 3 jenazah yang diurus.
Tim Khusus (Timsus) Pemulasaran  (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

“Stok habis terus, sekarang kami ada yang ngirim berapapun (jumlahnya) pasti kami tampung,” tuturnya.

Denny mengatakan, dalam sehari, pihaknya menerima 35 permintaan peti mati untuk pemakaman pasien Covid-19 dan suspek Covid-19.

Bahkan, sempat terjadi permintaan banyak hingga 45 peti dalam kurun waktu satu hari.

“Jadi kalau kita kan melayani yang meninggal Covid-19 dan suspek Covid-19 ya. Kalau dilihat atau dihitung sudah 35 sehari lah rata-rata ya, malah pernah 45 (peti) dalam waktu hari. Suspek covid juga wajib pemulasaran pakai prosedur covid,” jelasnya.

Baca juga: Sedang Antre Swab Antigen, Bandar Sabu Asal Aceh Ditangkap Polisi di Bandara Kualanamu

Baca juga: Polda Metro Jaya Periksa Penanggung Jawab Perusahaan Langgar PPKM Darurat yang Bikin Anies Geram

Lanjut Denny, untuk menunggu hingga peti mati tersedia, keluarga korban pasien Covid-19 harus menunggu dulu selama beberapa jam.

“Jadi gini, pada ngantri nunggu peti akhirnya. Ya apa boleh buat. Jadi nunggu peti, nunggu dulu 2-3 jam. Itu kenyatannya karena peti susah kan. Jadi siapa saja yang mau ngirim peti pasti kita terima, mau itu  peti, 8 peti, dari tukang-tukang peti. Siapa saja yang mau ngirim kita terima,” tuturnya.

“Iya ada kendala karena kelangkaan peti ya. Di daerah lain juga tinggi permintannya. Jadi kita keteteran juga karena peningkatan pasien yang meninggal.” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved