Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di DKI

Pembeli Boleh Makan di Tempat, Pemilik Warteg di Jakarta Timur Tetap Mengeluh Pelanggan Sepi

Sumiyati, seorang pemilik warteg mengatakan pelonggaran tidak sepenuhnya membantu bagi pelaku usaha tempat makan yang berada dekat perkantoran

Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
ilustrasi Warteg 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Pelonggaran yang diberikan pemerintah dalam perpanjangan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021 belum sepenuhnya membuat pelaku usaha warteg bernafas lega.

Meski dalam aturan perpanjangan PPKM Level 4 pelaku usaha tempat makan diperbolehkan melayani pengunjung makan di tempat dengan batas waktu maksimal 20 menit.

Sumiyati, seorang pemilik warteg mengatakan pelonggaran tidak sepenuhnya membantu bagi pelaku usaha tempat makan yang berada dekat perkantoran, pabrik karena para pelanggan mereka didominasi pekerja.

"Sementara pekerja kantor, pabrik pas PPKM ini masih libur kan, kerja di rumah. Jadi boleh makan di tempat atau enggak ya pelanggan tetap sepi, enggak ramai," kata Sumiyati di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (26/7/2021).

Menurutnya bagi pelaku tempat makan yang berada dekat perkantoran konsumen mereka lebih didominasi pekerja kantor, bukan warga warga yang berdomisili dekat warung makan mereka.

Dia mencontohkan sejak PPKM Darurat hingga Level 4 ini jumlah pelanggan yang datang ke warungnya anjlok karena para pekerja sektor non esensial dan kritikal melakukan work from home (WFH).

Baca juga: Mobil Pegawai Setjen DPR Terbakar di Tol Dalam Kota, Kerugian Mencapai Rp 200 Juta

Baca juga: PPKM Diperpanjang, Mobilitas di Pos Penyekatan Jakarta Timur Masih Tinggi

Baca juga: Palyja Lakukan Perbaikan Pipa di Kemang, Suplai Air di Sejumlah Wilayah Ini Siap-siap Terganggu

"Kalau Warteg pinggir jalan raya itu kan beda sama yang dalam permukiman. Pembelinya ya pekerja pabrik, orang lewat kerja segala macam. Sementara kantor sepi, jalanan juga," ujarnya.

Selain karena banyaknya pelanggan setia yang melakukan WFH, Sumiyati menuturkan penurunan omzet juga karena menurunnya daya beli warga karena penghasilannya berkurang.

Dia mencontohkan para sopir angkot langganannya yang semenjak PPKM Darurat dan Level 4 kerap berutang saat makan siang karena penghasilannya berkurang terdampak.

"Banyak yang utang karena kata mereka tarikan sepi semen PPKM, pada diputar balik di penyekatan. Kalau penurunan omzet ya lumayan besar lah, walaupun Alhamdulillah masih bisa dagang," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved