Sisi Lain Metropolitan

Menolak Menyerah dengan Keadaan, Juru Parkir Tunarungu di Cipayung Ini Pernah Jadi Korban Penculikan

Umar Azan Bahri (20), juru parkir tuna rungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur miliki kisah kelam sewaktu kecil.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Menolak Menyerah dengan Keadaan, Juru Parkir Tunarungu di Cipayung Ini Pernah Jadi Korban Penculikan - umar-parkir-2.jpg
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Umar, juru parkir tunarungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur yang pernah menjadi korban penculikan, Kamis (26/8/2021)
Menolak Menyerah dengan Keadaan, Juru Parkir Tunarungu di Cipayung Ini Pernah Jadi Korban Penculikan - umar-parkir.jpg
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Umar, juru parkir tunarungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur yang pernah menjadi korban penculikan, Kamis (26/8/2021)
Menolak Menyerah dengan Keadaan, Juru Parkir Tunarungu di Cipayung Ini Pernah Jadi Korban Penculikan - umar-parkir.jpg
TRIBUNJAKARTA.COM/NUR INDAH FARRAH AUDINA
Umar, juru parkir tunarungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur yang pernah menjadi korban penculikan, Kamis (26/8/2021)

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, CIPAYUNG - Umar Azan Bahri (20), juru parkir tuna rungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur miliki kisah kelam sewaktu kecil.

Bila Anda melintas di Jalan Gebang Sari, Cipayung, Jakarta Timur tentunya sudah tak asing dengan Umar.

Umar, sapaannya merupakan anak semata wayang Sabiah (47) dan Saipul Bahri yang setiap harinya selalu berada di lokasi tersebut.

Kendati begitu, tak banyak yang tahu bila sebenarnya Umar merupakan seorang tuna rungu.

Sabiah menceritakan bila anaknya itu memang memiliki keterbatasan sedari lahir.

Hal itu baru diketahui dirinya dan keluarga lainnya ketika Umar berusia satu tahun.

Mulanya, kata Sabiah, Umar selalu tak pernah merespon bila dipanggil oleh ia, ayahnya maupun orang lain.

Jangankan untuk sekedar menoleh, Umar selalu asyik melakukan aktivitasnya tanpa menghiraukan panggilan orang lain.

"Umar, Umar," ujar Sabiah ketika menirukan suaranya kala itu.

"Dia nengok (menoleh) juga enggak. Akhirnya saya bawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo," katanya kepada TribunJakarta.com, Kamis (26/8/2021).

Setibanya di sana, didapatilah bahwa pendengaran Umar memang bermasalah.

Meski begitu, alat bantu pendengaran juga tak cukup banyak membantu.

Umar tetap tak mendengar apa yang diucapkan orang lain. Sehingga sampai saat ini ia kesulitan berbicara lantaran tak mendengar suara.

Kini, untuk berkomunikasi dengan dirinya, pihak keluarga menggunakan bahasa isyarat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved