Sisi Lain Metropolitan
Menolak Menyerah dengan Keadaan, Juru Parkir Tunarungu di Cipayung Ini Pernah Jadi Korban Penculikan
Umar Azan Bahri (20), juru parkir tuna rungu di kawasan Cipayung, Jakarta Timur miliki kisah kelam sewaktu kecil.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Wahyu Aji
Yap, Sabiah mengatakan tetap memberikan hak pendidikan kepada Umar.
Umar dimasukkannya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar memiliki keahlian.
"Jadi kalau komunikasi sama dia pakai bahasa isyarat. Saya juga belajar bahasa isyarat selama tiga bulan. Jadi paham," jelasnya.
Selanjutnya, ketika Umar menginjak usia 15 tahun, ia tak betah berdiam diri di rumah. Umar akhirnya memutuskan untuk menjadi juru parkir.
"Iya itu dia jadi juru parkir udah lumayan lama. Saya enggak nyuruh. Ya namanya anak begitu kan. Dia memang anaknya rajin, nggak betah diam di rumah," jelasnya.
Selama menjadi juru parkir, Umar memang tak pernah meminta uang kepada Sabiah maupun suaminya.
Apalagi saat ini ayahnya sedang tak bekerja lantaran pandemi.
"Selama dia jadi juru parkir ya enggak minta uang sama saya. Bapaknya juga lagi enggak kerja, kan jadi sopir bus pariwisata. Kalau sikonnya begini kan memang enggak ada kerjaan," ucapnya.
Namun bila dirinya tak punya uang sama sekali, barulah Umar akan meminta kepada orang tuanya.
"Dia minta itu jarang, paling kalau enggak ada uang banget. Soalnya kan hasil jadi juru parkir dia pegang sendiri. Dia punya kostum satpam dan lain-lain itu ya dari uang parkir itu. Dia beliin kostum sendiri," jelasnya.

Walaupun begitu, rupanya ada kisah pilu yang sebenarnya masih membekas diingatan Umar dan keluarganya.
Dibalik sikap ramahnya kepada para pengendara, Sabiah menuturkan bila anaknya pernah menjadi korban penculikan.
Mirisnya, Umar baru ditemukan keluarganya sebulan kemudian dan sedang mengamen di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.
"Saya enggak apa-apa dia jadi juru parkir, yang penting dia senang. Saya masih bisa awasi juga kan, sebab Umar dulu pernah hilang diculik. Jadi yang penting dia senang aja," ungkapnya.
Kala itu, Umar berusia delapan tahun dan tinggal di sebuah kontrakan di wilayah Condet, Kramat Jati, Jakarta Timur.