Sisi Lain Metropolitan
Cerita Umar, Juru Parkir di Cipayung yang Kerap Ganti Kostum Tiap Bekerja
Bila Anda melintas di Jalan Gebang Sari, Cipayung, Jakarta Timur tentunya sudah tak asing dengan sosok Umar.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Muhammad Zulfikar
Mulanya, kata Sabiah, Umar selalu tak pernah merespon bila dipanggil oleh ia, ayahnya maupun orang lain.

Jangankan untuk sekadar menoleh, Umar selalu asyik melakukan aktivitasnya tanpa menghiraukan panggilan orang lain.
"Umar, Umar," ujar Sabiah ketika menirukan suaranya kala itu.
"Dia nengok (menoleh) juga enggak. Akhirnya saya bawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo," katanya.
Setibanya di sana, didapatilah bahwa pendengaran Umar memang bermasalah.
Meski begitu, alat bantu pendengaran juga tak cukup banyak membantu.
Umar tetap tak mendengar apa yang diucapkan orang lain. Sehingga sampai saat ini ia kesulitan berbicara lantaran tak mendengar suara.
Kini, untuk berkomunikasi dengan dirinya, pihak keluarga menggunakan bahasa isyarat.
Baca juga: Tukang Parkir Sempat Pikir Aksi Wanita Pakai Bikini Settingan: Saya Baru Tahu Nama Dia Dinar Candy
Yap, Sabiah mengatakan tetap memberikan hak pendidikan kepada Umar.
Umar dimasukkannya ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar memiliki keahlian.
"Jadi kalau komunikasi sama dia pakai bahasa isyarat. Saya juga belajar bahasa isyarat selama tiga bulan. Jadi paham," jelasnya.

Ketika menginjak usia 15 tahun, Umar tak betah berdiam diri di rumah. Umar akhirnya memutuskan untuk menjadi juru parkir.
"Iya itu dia jadi juru parkir udah lumayan lama. Saya enggak nyuruh. Ya namanya anak begitu kan. Dia memang anaknya rajin, nggak betah diam di rumah," jelasnya.
Selama menjadi juru parkir, Umar memang tak pernah meminta uang kepada Sabiah maupun suaminya.
Apalagi saat ini ayahnya sedang tak bekerja lantaran pandemi.