Sisi Lain Metropolitan
Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan
Ini cerita suka dan duka Nur Iyan, pemilik usaha layar tancep yang masih bertahan sampai sekarang.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Septiana
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, PAMULANG - Layar tancap bagi Nur Iyan (48) belum habis dimakan zaman, kendati sudah banyak bioskop modern.
Masyarakat masih menggemari layar tancap atau layar tancep sebagai hiburan murah meriah.
Banyak suka dan duka dialami Nur Iyan selama menggeluti jasa layar tancep keliling.
Tak jarang ia melewati sawah hingga gang-gang sempit untuk mengibur warga yang ingin menyaksikan layar tancep.
Sistem kerja layar tancep sederhana karena film seluloid cukup disorotkan ke permukaan kain putih yang terbentang.
Baca juga: Agatha Chelsea Bersama Gree Garap Film dan Musik Inspiratif Breathe The Love
Banyak orang masih memanggil layar tancep untuk berbagai acara.
Biasanya, ia melayani panggilan untuk khitanan, ulang tahun, perkawinan sampai tujuh bulanan.

Masyarakat yang memanggil jasa layar tancep tak hanya di Jakarta dan sekitarnya.
Mereka di pelosok daerah pun kerap meminta jasa Nur Iyan.
Sampai Lewat Sawah
Pernah Nur Iyan dan kru menggelar layar tancep untuk santunan anak yatim di Tegal Waru, Ciampea, Bogor.
Ia tak membayangkan sulitnya menuju lokasi karena akses jalan menuju kampung tak bisa dilalui mobil.
Baca juga: Cerita Umar, Juru Parkir di Cipayung yang Kerap Ganti Kostum Tiap Bekerja
Mereka harus berjalan kaki melewati sawah sambil menggotong proyektor dan pengeras suara untuk ke lokasi.
"Kurang lebih setengah kilo jalannya," kenang Iyan kepada TribunJakarta.com di kediamannya di Pondok Benda, Pamulang pada Senin (6/9/2021).
Cerita lainnya, Ia pernah dipanggil ke kampung di Cibadak, Sukabumi.

Di sana, mereka harus menghadapi jalan yang sempit.
Mereka menggunakan tiga motor punya warga untuk menggotong alat layar tancep menuju lokasi.
"Itu jaraknya satu kilo lebih. Kita dibantu warga naik motor bawa alat-alat," ungkap dia.
"Ada kali lima kali bolak balik," ceritanya.
Jangankan di pelosok, Iyan menghadapi kendala sama saat menanggap film di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Mobil yang mengangkut sejumlah alat tak bisa masuk lantaran gang terbilang sempit.
Akhirnya, Iyan menggunakan gerobak untuk mengangkut peralatan ke lokasi acara.
Baca juga: Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap
"Akses masuk ke lokasi harus melewati gang sempit," cerita Nur Iyan.
"Kita bawa alat didorong dengan gerobak sekitar 700 meter. Bolak balik itu," tambahnya.
Itu belum seberapa. Pernah ia mendapat musibah saat film sedang diputar dan warga asyik menonton.

"Pernah mendadak hujan deras disertai angin kencang, layarnya roboh. Itu tantangan terberat saya," katanya.
Setiap kali main, Nur Iyan membawa kain cadangan bila sewaktu-waktu kain sobek atau kotor.
Tarif penayangan layar tancep tergantung jarak.
Bila masih di sekitar Jabodetabek, Nur Iyan memasang tarif Rp 1 jutaan untuk satu kali acara.
Tarif bisa lebih tinggi jika jarak tempuhnya jauh.
Biasanya untuk satu acara, Iyan akan memutar tiga sampai empat film dimulai dari pukul 20.00 WIB sampai 03.00 WIB.
"Film-film yang digemari biasanya yang diperankan Benyamin, Barry Prima sama film Rhoma Irama," katanya.
Baca juga: Siasat Pengusaha Penyewaan Layar Tancap Bertahan di Tengah Covid-19, Gelar Nobar di Rumah
Mantan Sopir yang Banting Setir
Di rumah sederhana Nur Iyan tersimpan koleksi ratusan film seluloid yang masih diputar untuk layar tancep.
Berawal dari hobi, dia memilih menyambung hidup dengan menyewakan reel-reel film dan proyektor 35 mm di tengah derasnya arus digital saat ini.

Perkenalan Nur Iyan dengan film seluloid bermula saat masih kecil.
Kala itu, dia sering menyaksikan layar tancap.
Beranjak dewasa, Nur Iyan ingin mempunyai proyektor sendiri.
Dari hasil menyetir angkot, ia pertama kali membeli satu set lengkap proyektor 16 mm seharga Rp 5 juta dan sekitar 4 sampai 5 judul film pada tahun 2003.
Ia mulai menyewakan mesin proyektor dan film-filmnya kepada orang-orang.
Pada 2005, Nur Iyan membeli lagi mesin proyektor 35 mm tahun 1992.
Usaha penyewaan reel film dan layar tancap itu dijalankan oleh teman-temannya.
Baca juga: Kisah Nur Iyan, Mantan Sopir Angkot yang Koleksi 400 Judul Film Buat Layar Tancap
"Dulu waktu saya narik angkot Ciputat-Pamulang, usaha ini saya tinggalin, yang jalanin teman-teman," ucap dia.
Koleksi filmnya lambat laun mulai bertambah.
Pemasukan hasil sewa proyektor, film seluloid dan sopir angkot, digunakan untuk menambah koleksi film dari orang-orang yang berkecimpung di dunia film.

"Dari perantara produser film, biasanya saya dapat reel (rol) film itu," lanjutnya.
Pada tahun 2017, Iyan memutuskan untuk menjual mobil angkotnya.
Hasil jual mobil digunakan untuk membeli film lagi agar jumlah koleksinya terus bertambah.
Sebab, harga satu film terbilang mahal. Satu judul film luar negeri berkisar Rp 1 juta.
Saat ini ia sudah memiliki sekitar 400 ratus judul film dari tahun 1977 sampai 2012.
Satu film bisa membutuhkan 5 reel film. Tak heran, ia memiliki ruangan penyimpanan khusus reel-reel film itu.
Usaha penyewaan reel film seluloid milik Nur Iyan masih berjalan.
Baca juga: Cerita Pengusaha Penyewaan Layar Tancap Bertahan saat Corona: Tak Ada Hajatan, Gelar Nobar di Rumah
Obat Penawar Rindu
Ada saja orang yang datang untuk menyewa film dan jasa putar filmnya.
Sebelum pandemi, biasanya ia meladeni sekitar 5 sampai 10 penyewa layar tancep dalam sebulan.

Paling banyak ia memasang layar tancep untuk acara hajatan.
Banyak orang yang masih mencari jasa layar tancep karena ingin bernostalgia.
Layar tancep menjadi obat penawar rindu akan masa lalu.
"Mereka ingin bernostalgia, ingat masa lalu kangen juga. Ini kan termasuk barang langka udah susah," jelas Nur Iyan.
Banyak orang berpikir saat ini layar tancep sudah punah, ternyata masih eksis.
Pandemi datang, Nur Iyan mengaku penghasilannya merosot tajam karena penghasilannya dari acara hajatan.
"Pendapatan bisa 90 persen turunnya pas awal pandemi, karena saya mengandalkan acara hajatan. Sementara enggak boleh berkerumun, jadi menurun drastis," akunya.
Pemasukan Iyan berangsur pulih selepas lebaran. Ia kedatangam pelanggan dari rekan sesama komunitas.
Mereka menyewa film seluloid milik Nur Iyan untuk diputar di rumahnya masing-masing.
Tidak banyak teman-temannya yang memiliki koleksi film seluloid, hanya segelintir saja. Sisanya hanya punya proyektor.
Dari hasil penyewaan film, Nur Iyan mendapatkan uang sekira Rp 80 ribu sampai Rp 200 ribuan.
Lumayan untuk pemasukannya di tengah situasi sulit ini.
"Teman datang minjem film beberapa judul, buat diputar di rumahnya sekalian manasin proyektor milik mereka," ungkap dia.