Sisi Lain Metropolitan

20 Tahun Narik Becak, Cerita Bada Banting Setir Jadi Nelayan Muara Angke

Di haluan kapal kayu, Bada (54) menikmati semilir angin Teluk Jakarta, sejenak melupakan tangkapan ikan seminggu terakhir belum memuaskan.

Tayang:
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Bada (54), nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, saat ditemui pada Selasa (5/10/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Di haluan kapal kayu, Bada (54) menikmati semilir angin Teluk Jakarta, sejenak melupakan tangkapan ikan seminggu terakhir belum memuaskan.

Pria kulit sawo matang dengan rajah di lengan kanannya ini sesekali mengobrol dengan temannya sesama nelayan di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara.

Selasa (5/10/2021) siang itu Badan dan lainnya baru saja pulang melaut dan tengah beristirahat menunggu malam tiba untuk kembali berlayar.

Dari celetukan mereka, sepertinya laut belakangan ini masih belum bersahabat dan memberikan mereka ikan.

Sudah sepekan belakangan hasil tangkapan yang biasanya melimpah kini berkurang drastis.

Baca juga: 32 Tahun Jadi Montir Vespa Klasik, Aphin Ogah Ikut Touring: Jadi Kolektor Vespa, Ada VBB 1963

"Sudah beberapa lama ini, sudah seminggu lah," kata Bada saat ditemui di lokasi, Selasa (5/10/2021).

Faktor cuaca menjadi penyebab sulitnya mendapatkan ikan yang banyak dalam beberapa waktu terakhir.

Bada (54), nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, saat ditemui pada Selasa (5/10/2021).
Bada (54), nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, saat ditemui pada Selasa (5/10/2021). (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Ombak tinggi dan angin kencang membuat para nelayan kelimpungan.

Padahal, Bada dan delapan orang lain di kapal kayu hanya melaut di sepanjang pesisir Penjaringan, Tanjung Priok, hingga Kepulauan Seribu.

"Lagi menurun karena cuaca, kadang anginnya dari selatan. Apalagi masuk musim ujan, entar nih kalau udah (angin) barat, muncul lagi, sekarang lagi turun," katanya.

Bada biasa melaut mulai pukul 20.00 WIB dan baru pulang sekira pukul 06.00 WIB.

Jika tangkapan sedang bagus-bagusnya, ia bisa menjala 5-10 ton ikan per sekali melaut.

Baca juga: Suka Duka Iyan, Pemilik Layar Tancap yang Masih Bertahan hingga Sekarang: Layar Roboh saat Hujan

Sepekan terakhir, hasil tangkapan semalam palingan hanya 1 ton saja.

"Kitanya dapat Rp 2 juta. Kalau normal bisa Rp 10 juta. Nah itu dibagi lagi, ada belanjaan lah Rp 300 ribu, terus sama bosnya, paling ke saya cuma Rp 50 ribu," Aku Bada.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved