Sisi Lain Metropolitan
20 Tahun Narik Becak, Cerita Bada Banting Setir Jadi Nelayan Muara Angke
Di haluan kapal kayu, Bada (54) menikmati semilir angin Teluk Jakarta, sejenak melupakan tangkapan ikan seminggu terakhir belum memuaskan.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Y Gustaman
Berjaya di Darat
Sudah 10 tahun ini Bada mencari nafkah sebagai nelayan di Teluk Jakarta.
Sebelum terjun ke laut, ia mengaspal dengan becaknya menarik penumpang di jalanan Jakarta Utara.
Bada sempat menjadi tukang becak selama 20 tahun sebelum mengikuti ajakan temannya untuk menjadi nelayan.
Ia mesti banting setir lantaran sekitar 10 tahun lalu, Pemprov DKI Jakarta melarang operasional becak.
"Saya dulunya tukang becak di Kali Baru, Cilincing, sempat 20 tahun. Sekarang becaknya pada digarukin," ucap Bada.
Bada mengakui pekerjaan tukang becak lebih menghasilkan daripada menjadi nelayan.
Dalam sehari dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 100-200 ribu. Sedangkan penghasilan dari melaut tidak menentu.
"Memang banyakan dari tukang becak. Cuman namanya kita nyari uang, mau nggak mau kita lakoni aja," ucap Bada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/bada-nelayan-muara-angke.jpg)