Sisi Lain Metropolitan
Pantang Bicara Kasar Bagi Peziarah Makam Datuk Biru dan Datuk Ali di Jatinegara, Awali dengan Wudu
Dua makam keramat di Masjid Jami Al Anwar, Jatinegara, Jakarta Timur, banyak didatangi sejumlah peziarah.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Y Gustaman
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Dua makam keramat di Masjid Jami Al Anwar, Jatinegara, Jakarta Timur, banyak didatangi sejumlah peziarah.
Bagi warga sekitaran Rawa Bunga sudah tak asing dengan dua makam di masjid tersebut.
Makam berusia ratusan tahun ini merupakan makam Datuk Umar dan makam Datuk Ali.
Pencerita sejarah Masjid Jami Al Anwar, Muhammad Rasyid, membuka cerita siapa keduanya.
Ia mengatakan, Datuk Umar kerap dikenal dengan Datuk Biru.
Baca juga: Berdiri Sejak Ratusan Tahun, Masjid Jami Al Anwar Jatinegara Sempat Jadi Tempat Atur Strategi Perang
Datuk Biru merupakan perintis pertama masjid ini berdiri sehingga bertahan sampai sekarang di tengah masyarakat.
Dahulu, masjid ini bukanlah bernama Masjid Jami Al Anwar.
Seiring banyaknya ulama datang untuk syiar agama islam di masjid, namanya berubah menjadi Masjid Jami Al Anwar.
Masjid Jami Al Anwar lebih kurang baru 100 tahun lalu merujuk nama seorang ulama yang biasa disebut Guru Al Anwar.
Al Anwar merupakan pendekar ulama Rawabangke, guru KH Marzuki Bin Nirshod.
Hingga kini, makam Datuk Ali dan Datuk Umar masih terus didatangi peziarah.
Meski letaknya di dalam areal masjid, namun peziarah yang datang ada dari mancanegara.
Suasana tempo dulu yang masih hutan dan sawah, membuat jarak antar rumah penduduk berjauhan.
Hingga akhirnya para ulama di masa itu mencetuskan untuk menghadirkan sebuah masjid sederhana untuk masyarakat beribadah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/makan-datuk-umar-dan-datuk-ali.jpg)