Cerita Kriminal

Mengaku Putra Siregar, Napi Lapas Kerobokan Tipu Pembeli Handphone Hingga Miliaran Rupiah

Andhika yang kini masih berstatus warga binaan pemasyarakatan (WBP) terbukti melakukan penipuan dengan mengaku sebagai pengusaha Putra Siregar

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
ISTIMEWA
ilustrasi penipuan 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Pembinaan yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas II A Kerobokan, Provinsi Bali belum membuat Andhika Kurnia Nasution jera melakukan tindak pidana.

Andhika yang kini masih berstatus warga binaan pemasyarakatan (WBP) terbukti melakukan penipuan dengan mengaku sebagai pengusaha Putra Siregar yang merupakan pemilik PS Store.

Kapolrestro Jakarta Timur, Kombes Pol Erwin Kurniawan, mengatakan, Andhika merupakan dalang penipuan penjualan handphone yang sudah beraksi selama dua tahun terakhir.

"Pelaku mengiklankan penjualan handphone di media sosial dengan harga murah. Yang bersangkutan memalsukan KTP atas nama Putra Siregar," kata Erwin di Mapolrestro Jakarta Timur, Senin (1/11/2021).

Diduga seluruh perbuatan penipuan itu dilakukan Andhika menggunakan handphone selundupan, pasalnya WBP tidak memiliki kesempatan menggunakan handphone di Lapas.

Andhika yang mendekam di Lapas Kerobokan karena kasus penyalahguna narkoba tidak beraksi sendiri, dia dibantu Jabbar dan Slamet Riyadi yang bukan WBP.

Mereka berbagi tugas, Jabbar berperan sebagai admin dari toko PS Store guna meyakinkan kalau korban benar membeli handphone pada toko PS Store yang sudah terkenal.

Baca juga: Kuasa Hukum Sebut Bos PS Store Divonis Bebas Atas Kasus Penjualan Handphone Ilegal

"Setelah melakukan percakapan melalui WhatsApp dan terjadi kesepakatan jual beli. Korban melakukan penyerahan uang dengan cara transfer ke rekening yang diberikan pelaku," ujarnya.

Erwin menuturkan setelah korban mentransfer uang, pelaku Slamet Riyadi menghubungi korban mengaku sebagai petugas dari Beacukai dengan dalih handphone yang dibeli tertahan. 

Beruntung saat pelaku yang mengaku petugas Bea Cukai meminta korban mentransfer uang sebagai bentuk jaminan handphone bisa dikirim. Korban curiga lalu menghubungi toko PS Store.

"Kecurigaan korban timbul setelah mengklarifikasi ke PS Store resmi dan diketahui bahwa ini PS Store palsu. Kerugian korban Rp 1,8 juta. Korban mengecek ke toko PS Store yang berada di Jalan Raya Condet," tuturnya.

Baca juga: Toko PS Store di Condet Terbakar Gara-gara Korsleting Listrik

Erwin mengatakan penipuan yang dilakukan ketiga pelaku terungkap setelah satu korban melaporkan kasus ke Satreskrim Polrestro Jakarta Timur pada 11 Juni 2021 lalu.

Kini Jabbar dan Slamet Riyadi sudah diamankan di sel tahanan Mapolrestro Jakarta Timur, sementara Andhika masih mendekam di Lapas Kelas II A Kerobokan, Provinsi Bali.

Penyidik Satreskrim Polrestro Jakarta Timur sudah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) terkait proses hukum kasus penipuan terhadap Andhika.

"Total kerugian (seluruh korban selama dua tahun beraksi) diperkirakan mencapai miliaran (rupiah), para tersangka sudah 2 tahun lebih beroperasi. Tapi yang dapat dibuktikan penyidik Rp 360 juta," lanjut Erwin.

Tiga tersangka dijerat pasal 378 KUHP tentang Penipuan, dan atau pasal 28 ayat 1 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.

Barang bukti yang diamankan di antaranya enam handphone berbagai merek, 10 kartu ATM berbagai bank, dan satu lembar KTP palsu atas nama Putra Siregar yang digunakan untuk menipu.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved