Breaking News:

Wacana Hukum Mati Koruptor, Jaksa Agung Disebut Langgar Deklarasi Universal HAM Jika Tetap Berlanjut

Pelaksanaan hukuman mati bagi para koruptor mendapatkan banyak tentangan, satu di antaranya dari aktivis HAM seperti Amnesty International Indonesia.

Editor: Wahyu Septiana
Istimewa via tribunnews
Ilustrasi koruptor - Pelaksanaan hukuman mati bagi para koruptor mendapatkan banyak tentangan, satu di antaranya dari aktivis HAM seperti Amnesty International Indonesia. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Rencana pelaksanaan hukuman mati bagi para koruptor mendapatkan banyak tentangan, satu di antaranya datang dari aktivis HAM seperti Amnesty International Indonesia.

Para aktivis HAM seperti Amnesty International Indonesia secara tegas menentang hukuman mati untuk segala kasus tanpa terkecuali.

Hal tersebut terkait penolakan rencana pelaksanaan hukuman mati koruptor oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Mereka menilai hukuman mati merupakan pelanggaran hak untuk hidup sebagaimana dinyatakan dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

"Terlepas dari siapa yang dituduh melakukan kejahatan, sifat kejahatan, bersalah atau tidak bersalah, ataupun metode eksekusi yang digunakan," ujar Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid kepada wartawan beberapa waktu lalu di Jakarta.

Berdasarkan penelitian yang ada telah menunjukkan bahwa yang efektif untuk mengurangi tindakan kriminal adalah kepastian hukum, bukan tingkat beratnya hukuman tersebut.

Baca juga: Jaksa Agung Diterpa Isu Tidak Sedap, Politisi PDIP Kenneth: Jangan Surut, Bumi Hanguskan Koruptor

"Hukuman mati tidak terbukti menimbulkan efek jera," lanjutnya.

Selain itu, Usman menyebut bahwa negara-negara yang tingkat korupsinya paling rendah berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi TII seperti Selandia Baru, Denmark, dan Finlandia tidak menerapkan hukuman mati untuk koruptor.

Ilustrasi Korupsi
Ilustrasi Korupsi (kupasmerdeka.com)

Negara-negara yang menerapkan hukuman mati untuk koruptor, lanjutnya, seperti Tiongkok, Korea Utara, dan Iraq malah memiliki tingkat korupsi yang jauh lebih tinggi, beberapa di antaranya bahkan lebih tinggi daripada Indonesia.

"Karena itu, jika ingin menimbulkan efek jera dan memberantas korupsi, seharusnya Jaksa Agung dan aparat penegak hukum lainnya fokus untuk memastikan bahwa semua pelaku korupsi bisa dibawa ke pengadilan, bukan bermain retorika soal hukuman mati," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved