Anjing Liar Mati Secara Massal di Mandalika, Begini Komentar Pakar Psikologi Forensik

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sejatinya setuju adanya pengendalian hewan liar saat ini sedang dipraktikkan dimana-mana.

Tayang:
Editor: Wahyu Septiana
The Blue House/AFP via Straits Times
Ilustrasi anjing liar - Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan sejatinya setuju adanya pengendalian hewan liar saat ini sedang dipraktikkan dimana-mana. 

Namun, bangkai yang satu lagi tidak bisa diketahui penyebab kematiannya, karena telah hancur.

"Bangkai yang satu lagi sudah terlalu hancur dan tidak bisa ditemukan penyebab kematiannya," lanjutnya.

Sebelumnya, visum tersebut dilakukan untuk menindaklakuti pasca laporan warga terkait anjing di sekitar Sirkuit Mandalika mati secara serempak yang diduga diracun.

"Dari laporan awal dan pengamatan kawan-kawan pers, ada 7 ekor. Bangkai yang bisa kami temukan di lokasi, hanya 2. Sisanya hilang dari tempat mereka terlihat sebelumnya," kata dia.

Baca juga: Ucapannya Biar Anjing Menggonggong Bawa Petaka, Doddy Sudrajat Dilaporkan ke Polisi oleh Sosok Ini

Doni pun menduga bahwa kematian anjing-anjing tersebut ada kaitannya dengan unggahan di webite Dinas Peternakan NTB yang berupaya untuk mensterilkan area Sirkuit Mandalika.

"Saya menduga ada kaitan antara upaya mensterilkan area sirkuit, postingan di website Dinas Peternakan, dan matinya anjing-anjing ini," katanya.

Untuk itu, pihaknya pun menyerahkan bukti-bukti awal tersebut ke pihak kepolisian agar segera bergerak untuk memeriksa dan menyelidiki kasus tersebut.

"Perlu dicatat, anjing-anjing ini tidak mati dengan seketika. Ada darah yang terhirup masuk ke kerongkongan dan bagian tubuh lainnya," kata Doni.

Manurutnya sebelum mati, anjing-anjing tersebut sangat menderita dan tidak mati dengan cara yang mudah.

Ia mengatakan bahwa untuk meningkatkan roda pariwisata, tak sepatutnya sampai menumpahkan darah hewan yang menjadi sahabat masyarakat di sana yang selama ini hidup berdampingan dan saling menghormati.

Baca juga: Sederet Alasan Ini Buat Burung Kicau Jadi Peliharaan Lebih Simpel Dibanding Anjing dan Kucing

Terkait kasus tersebut, pihaknya pun akan melaporkan beberapa pihak yang diduga bertanggungjawab dalam kasus tersebut ke Polda NTB sesegera mungkin.

"Termasuk pernyataan dengan kata 'pemberantasan' pada website resmi Dinas Peternakan NTB," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved