Kisah Santri Cilik yang Memilukan, Tubuh dan Mimpi Mulianya Hangus Terbakar Amukan Api di Pesantren
Sebelum peristiwa maut itu terjadi, Moreno Aditya (10) punya mimpi yang sangat mulia sejak kecil.
TRIBUNJAKARTA.COM, KARAWANG - Musibah kebakaran pondok pesantren Miftahul Khoirot di Karawang merenggut nyawa sejumlah santri.
Salah satu santri itu bernama Moreno Aditya (10).
Sebelum peristiwa maut itu terjadi, Moreno punya mimpi yang sangat mulia, menjadi Hafidz Al-Quran sejak kecil.
Kebakaran itu jelas membawa nestapa bagi keluarga korban.
Kesedihan itu tergambar di wajah Rizki (28), ayah Moreno Aditya, salah satu santri cilik yang tewas.
Baca juga: Santri Terpanggang Api saat Tragedi Maut di Pesantren, Keluarga: Semoga Almarhum Diterima di Sisinya
Meski para tetangga hingga Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, datang menyampaikan belasungkawa, tetapi tak bisa mengobati rasa sedih Rizki.
Ia terus menangis meratapi kepergian sang buah hati.
Diketahui Moreno tinggal bersama uwaknya di Dusun Puloluntas RT 005 RW 002 Desa Sukamulya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang,

Sedangkan ibunya merantau mengadu nasib ke Tangerang.
Meski di tanah rantau, sang ibu tetap memerhatikan dan menyekolahkan Moreno hingga pesantren.
Di mata Nakim (54), kerabatnya, Moreno merupakan sosok yang periang.
Ia masuk ke pesantren tahfidz sejak keluar dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Bocah itu memanng ingin menjadi Hafidz Quran.
"Masuk pesantren sejak kecil. Sekarang kelas IV (SD)," kata Nakim.
Keluarga korban lain