Takut Diprokes dan Tak Bisa Bertemu, Keluarga Tahan Pasien Covid-19 di Rumah Sampai Meninggal Dunia

Serangan Covid-19 pada anggota keluarga bisa sangat dilematis. Hal itu seperti yang terjadi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat kemarin.

Istimewa/BPBD Kota Bekasi
Ilustrasi penjemputan jenazah korban Covid-19. Foto tidak ada hubungannya dengan berita. Tim penjemput jenazah Covid-19 BPBD Kota Bekasi saat melayani pasien meninggal isoman di rumah. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Serangan Covid-19 pada anggota keluarga bisa sangat dilematis.

Hal itu seperti yang terjadi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat kemarin.

Ada dua penderita Covid-19 yang ditahan keluarganya untuk tetap di rumah kendati sudah mendapat rekomendasi untuk dirawat di rumah sakit.

Akhirnya dua pasien Covid-19 tersebut meninggal dunia dalam isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Saat itu, alasan keluarga tidak ingin membawa ke rumah sakit lantaran khawatir tidak bisa merawat untuk yang terakhir kalinya.

Baca juga: 2 Pasien Isoman Meninggal di Rumah, Alasan Pihak Keluarga: Kalau ke RS Nanti Tak Bisa Ketemu Lagi

Sebab, jika dirawat di rumah sakit, kelaurga tidak bisa mendampingi.

Pun, jika meninggal dunia, maka jasadnya akan langsung diurus secara protokol Covid-19 (prokes), sehingga keluarga tidak bisa mengurus pemulasarannya sendiri.

Sedangkan total warga meninggal akibat Covid-19 sebanyak 36 orang selama dua bulan terakhir ini.

"Total tambahan yang meninggal 32, ada yang sudah divaksin dan mayoritas 60 persen belum divaksin sama sekali. Semuanya yang meninggal di rumah sakit, dan ada 2 orang kasus isoman yang meninggal," tutur Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Asep Hendra, Kamis (3/3/2022).

"Kedua orang itu bergejala dan disarankan dirawat di rumah sakit tidak mau, keluarga juga memilih di rumah saja sampai akhirnya meninggal," ujar tambah Asep.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona (Freepik)

Asep mengaku pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa jika keluarga pasien enggan kooperatif.

"Katanya kalau ke rumah sakit nanti tak bisa ketemu lagi. Setelah meninggal diprokes dan sebagainya. Beda orang beda semuanya. Kita konfirmasi dan mengambil langkah diam di rumah. Keluarganya sudah pendek harapan, nanti katanya enggak bisa ketemu lagi, meninggal masuk peti," kata Asep.

Dari jumlah kasus meninggal, lanjut Asep, hampir 50 persen sudah berusia lanjut yakni 60 tahun ke atas.

Sisanya beberapa pasien yang meninggal usianya di bawah 40 tahun ke bawah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved