Ada Kasus Penyakit Mulut dan Kuku, Pembeli di Pasar Kramat Jati Tetap Belanja Daging Sapi Lokal

Temuan kasus sapi terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jawa Timur tidak memengaruhi minat konsumen membeli daging sapi lokal.

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Lapak pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (29/4/2022). Temuan kasus sapi terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jawa Tengah tidak memengaruhi minat konsumen membeli daging sapi lokal. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Temuan kasus sapi terinfeksi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Jawa Timur tidak memengaruhi minat konsumen membeli daging sapi lokal.

Bahkan meski harga daging sapi lokal saat ini lebih mahal dibandingkan daging sapi impor, tapi pembeli di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur tetap memilih daging sapi lokal.

Ika, satu pembeli di Pasar Kramat Jati mengatakan lebih memilih membeli daging sapi lokal karena kesehatannya dianggap lebih terjamin dibandingkan daging sapi impor dan sudah terbiasa.

"Saya selalu beli daging lokal karena terjamin. Bebas penyakit lah. Kalau impor kan kita belum paham juga. Selama ini saya belanja di Pasar Kramat Jati aman," kata Ika di Pasar Kramat Jati, Rabu (11/5/2022).

Pertimbangan lainnya juga karena dia khawatir daging sapi impor sudah terkontaminasi bakteri saat dalam perjalanan dari negara asal tempat pemotongan ke Indonesia.

Baca juga: Usai Lebaran, Harga Daging Sapi Lokal di Pasar Kramat Jati Tetap Rp 150 Ribu Per Kilogram

Pun dia juga berharap pemerintah meningkatkan pengawasan kesehatan hewan agar tidak ada kasus sapi terinfeksi penyakit kuku dan mulut (PMK) sebagaimana kasus di Jawa Timur.

"Kalau saya setiap belanja pilih daging yang merah dan tidak berair. Harapannya ya biar sebelum dipotong dari pemerintah ada pemeriksaan dulu kesehatannya. Biar daging lokal sehat," ujarnya.

Lapak pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (29/4/2022).
Lapak pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (29/4/2022). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Muhafad, satu pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati mengimbau warga untuk selalu waspada ketika berbelanja agar terhindar dari daging hewan berpenyakit.

Dia mencontohkan bila ada pedagang daging sapi yang menjual harga lebih murah dibanding pasaran nasional maka sebaiknya pembeli waspada dengan kualitas daging.

Baca juga: H-2 Lebaran 2022, Harga Daging Sapi di Kota Bekasi Tembus Rp160 Ribu Per Kilogram

"Apalagi zaman sekarang orang berbagai macam cara untuk cari uang. Harus waspada, jangan tergiur harga murah. Harus tau belinya atau langganannya,' tutur Muhafad.

Soal ciri daging sehat, menurut Muhafad warna daging tidak sepenuhnya menentukan kualitas karena bergantung pada jenis sapi lokal yang dipotong di tempat pemotongan hewan.

Dia menyarankan agar pembeli memilih daging berdasarkan tekstur, seperti jangan membeli daging sapi bila kondisinya terlalu lembek atau tidak padat, berlendir dan banyak kandungan air.

"Tidak benyeyeh. Karena kita juga kalau dagang mencari kualitas yang bagus, biar enak dan menarik pembeli kan. Kalau dagingnya busuk, jelek yang enggak ada mau beli," lanjut dia.

Sebelumnya pemerintah menemukan kasus sapi di Jawa Timur terjangkit PMK sehingga memicu kekhawatiran warga dengan kualitas daging sapi yang beredar di pasaran saat ini.

Tidak hanya daging sapi lokal, warga khawatir dengan kualitas daging sapi impor karena takut daging yang mereka beli untuk dikonsumsi berasal dari hewan berpenyakit.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved