Formula E

DPRD Dorong Pemprov DKI Pertimbangkan Nama Sirkuit Formula E Pakai Bahasa Indonesia

Anggota DPRD DKI Fraksi Gerindra, Syarif soroti penggunaan nama sirkuit Formula E yang memakai bahasa Inggris.

Tribunnews/AFP/ADEK BERRY
Foto udara yang diambil di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Rabu (27/4/2022), memperlihatkan sirkuit Formula E yang balapannya akan digelar pada 4 Juni 2022. AFP/ADEK BERRY 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Anggota DPRD DKI Fraksi Gerindra, Syarif menyoroti penggunaan nama sirkuit Formula E yang memakai bahasa Inggris.

Melansir Kompas.com, sirkuit Formula E bernama Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC) berada di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

Hal ini pun disinggung oleh Politisi Gerindra tersebut. Ia menilai sirkuit Formula E memerlukan nama dalam Bahasa Indonesia.

"Saya sih iya (perlu nama Indonesia). Saya untuk kan seperti di dalam aturan segala sesuatunya yang dibiayai negara harus taat pada aturan itu, aturannya adalah penamaannya dengan menggunakan bahasa asing. Kalau mau dua-duanya ya bisa pakai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris," ucapnya saat dihubungi, Jumat (20/5/2022).

Adapun aturan tersebut yakni UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Baca juga: WNI yang Beli Tiket Formula E Baru 21 Persen, Politisi Gerindra Sebut Kalah Pamor dari F1 dan MotoGP

Dalam Pasal 36 ayat 3 UU tersebut dijelaskan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Kewajiban penggunaan bahasa Indonesia ini juga tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) 63 Tahun 2019 yang diterbitkan Presiden Joko Widodo.

Pada Pasal 33 Perpres tersebut disebutkan bahwa kompleks olahraga termasuk dalam bangunan atau gedung yang penamaannya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia.

"Saya tetap mendukung upaya itu untuk supaya patuh pada aturan. Saya bukan ahli bahasa jadi silahkan nanti pihak Pemprov berkonsultasi dengan ahli bahasa yang pas apa, bahasa dan artistiknya ya penamaan itu kan bahasanya juga harus cantik ya. Gak sembarangan. Saya serahkan pada ahlinya lah untuk penamaan itu," imbuhnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved