Guru di Depok Cabuli Belasan Santri

Kemenag Angkat Bicara Soal Kasus Dugaan Pelecehan Santri oleh Oknum Guru di Ponpes Depok

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok. Asnawi, angkat bicara soal kasus dugaan pelecehan seksual di pondok pesantren di kawasan Beji.

TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Kepala Kemenag Depok, Asnawi, saat menyampaikan testimoni usai divaksin Covid-19 di RSUI, Beji, Kota Depok, Kamis (14/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, BEJI – Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok. Asnawi, angkat bicara soal kasus dugaan pelecehan seksual di pondok pesantren di kawasan Beji, Kota Depok.

Seperti dikeahui, kasus yang melibatkan tiga oknum guru dan satu kakak kelas sebagai pelaku itu mulai memasuki babak baru.

Terkini, ketiga oknum guru dan seorang kakak kelas tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Asnawi mengatakan, pondok pesantren tersebut sejatinya sudah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat untuk mencegah hal-hal semacam ini terjadi.

“Justru dari pihak pesantren juga merasa kaget, tidak tahu kalau ada laporan dari pihak yang mewakili wali santri, yang melaporkan oknum guru tidak tetap yang katanya telah melakukan tindakan yang tidak dibenarkan,” kata Asnawi dikonfirmasi wartawan, Senin (11/7/2022).

Baca juga: Sikap Wali Kota Idris Soal Kasus Dugaan Pencabulan Oknum Guru Pesantren di Depok

“Padahal sudah diterapkan SOP yang sangat ketat, terhadap pola pengasuhan santri oleh para dewan guru,” sambungnya lagi.

Asnawi mengatakan, pihaknya menekankan agar masyarakat tidak menyalahkan pondok pesantren tersebut.

Pimpinan pesantren yang diduga jadi lokasi pencabulan santri, Ahmad Riyadh, saat dijumpai wartawan, Kamis (30/6/2022). Riyadh mengaku sudah membuat sistem yang mencegah hal yang tidak diinginkan.
Pimpinan pesantren yang diduga jadi lokasi pencabulan santri, Ahmad Riyadh, saat dijumpai wartawan, Kamis (30/6/2022). Riyadh mengaku sudah membuat sistem yang mencegah hal yang tidak diinginkan. (Dwi Putra Kesuma/TribunJakarta.com)

“Asas praduga tak bersalah ya tetap ada. Tapi jangan disalahkan pondok pesantrennya kan begitu, jangan disalahkan ponpesnya itu yang ingin saya tekankan,” tegasnya.

Menurut Asnawi, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang sakral.

“Pesantren ini kan lembaga yang sakral, untuk menuntut ilmu agama, yang jauh dari hal-hal yang sifatnya seperti itu sejatinya. Tetapi, ketika ada oknum apa hendak dikata, namun demikian proses hukumnya kan berjalan dan tetap asas praduga tak bersalahnya tetap ada,” ungkapnya.

“Kita sedang melaksanakan verifikasi hasil tindak lanjut dari kehadiran kita terhadap pesantren kemarin. Secara keseluruhan nanti kita adakan kegiatan verifikasi, juga terhadap kelayakan terhadap ponpes yang memang sudah mendapatkan izin khususnya,” timpal Asnawi.

Lebih lanjut, Asnawi mengatakan pihaknya juga meminta seluruh pondok pesantren yang ada di Kota Depok dan terverifikasi untuk meningkatkan pengawasannya.

“Kami meminta kepada seluruh pimpinan ponpes untuk menjaga nama baik pesantren itu sendiri dari sisi kelembagaan, artinya semua sepakat keluarga pesantren ataupun juga masyarakat bahwa pesantren itu juga sebagai lembaga pendidikan agama, yang sebenarnya jauh untuk tidak melakukan tindakan amoral seperti itu,” tuturnya.

Kemudian, Asnawi berujar pihaknya juga meminta seluruh pesantren yang ada di Kota Depok untuk memperketat pola asuh terhadap para santrinya.

“Sistem pola asuhnya yang diperketat oleh para kyai, kalau perempuan pola asuhnya ya oleh ustazah. Kalau laki-laki dari ustaz. Terus asramanya, kita tinjau antara pihak laki-laki atau perempuan,” bebernya.

Terakhir, Asnawi berujar bahwa pihaknya meminta pihak pesantren agar memilah betul-betul dalam proses perekrutan tenaga pendidiknya.

Kalau itu kita serahkan ke ponpes, tapi saya minta tentu rekrutmennya itu sesuai dengan keahlian pengajar, kalau bidang agama ya harus dari orang-orang yang mengerti agama,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved