Pilpres 2024

Anies Baswedan Bicara Pilpres, Bilang Polarisasi dalam Pemilu Wajar dan Tak Perlu Dikhawatirkan

Menurut Anies Baswedan, selama masa kampanye pilpres akan timbul unsur emosi yang mencermintan kontestasi serta programatik.

TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, saat menjadi pembicara dalam acara Indonesia Millennial and Gen Z Summit 2022, di The Tribrata Jakarta, Jumat (30/9/2022). Dalam acara tersebut, Anies Baswedan menyebut polarisasi dalam pemilu adalah wajar dan tak perlu dikhawatirkan.  

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai bahwa proses polarisasi dalam pemilihan umum (pemilu) sebagai sesuatu yang wajar dan tak perlu dikhawatirkan.

Hal ini dikatakan Anies Bsawedan saat menjadi pembicara dalam acara Indonesia Millennial and Gen Z Summit 2022, di The Tribrata Jakarta, Jumat (30/9/2022).

Diketahui, Anies Baswedan jadi salah satu kandidat calon presiden (capres) yang dilirik beberapa partai politik, namun masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta baru berakhir pada 16 Oktober 2022 nanti.

"Polarisasi terjadi antar apa? antar dua kubu, tiga kubu, empat kubu, dan kita tidak perlu khawatir dengan proses itu, karena ini adalah nature nya proses pemilihan," kata Anies.

Baca juga: Tiga Parpol Nyaris 100 Persen Usung Anies Baswedan Jadi Capres, Deklarasi Saat Hari Pahlawan

Ia mencontohkan, ketika terjadi pertandingan antara dua klub sepak bola dari daerah yang sama.

Seperti Manchester United dan juga Manchester City. Keduanya, memiliki pendukung yang berbeda antara kubu Manchester United dan juga Manchester City. 

"Kalau Manchester City bertanding lawan Manchester United, ya terjadi polarisasi di kota itu antara pendukung city dan pendukung united. Tapi, pada ujungnya, selesai pertandingan semua yang baju merah dan baju biru itu hilang," papar Anies.

Foto tiga bakal Capres 2024 hasil Rakernas Partai NasDem yakni Ganjar Pranowo, Jenderal Andika Perkasa dan Anies Baswedan, ditampilkan di panggung dalam penutupan Rakernas Partai NasDem di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (17/6/2022).
Foto tiga bakal Capres 2024 hasil Rakernas Partai NasDem yakni Ganjar Pranowo, Jenderal Andika Perkasa dan Anies Baswedan, ditampilkan di panggung dalam penutupan Rakernas Partai NasDem di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (17/6/2022). (Tribunnews.com/Reza Deni)

Menurut Anies Baswedan, selama masa kampanye pilpres akan timbul unsur emosi yang mencermintan kontestasi serta programatik.

Aspek programatik, biasanya akan disandingkan antara satu peserta dan peserta lainnya.

Kendati begitu, menurut Anies penting bagi masyarakat untuk melihat rekam jejak dari siapapun yang akan maju dalam Pemilu tersebut.

"Kenapa? Karena pada masa kampanye masing-masing pihak akan menonjolkan kekuatannya, dan akan melabelkan negatif kepada lawannya, itu dua-duanya terjadi,"

"Ketika proses kampanye itu, publik perlu dirangsang dari sekarang. Mari kita bersiap untuk melihat rekam jejak, untuk melihat apa yang sudah dikaryakan, apa yang sudah dihasilkan sehingga ketika masuk kepada fase pemilu nanti, pada saat proses muncul unsur emosional itu, dia tidak menutup tema-tema penting yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, menyangkut kelangsungan demokrasi," katanya.

Oleh sebab itu, Anies memandang bahwa polarisasi merupakan hal yang wajar dalam proses pemilu.

Baca juga: Capres PDIP Makin Panas: Usai Dewan Kolonel DPR Dukung Puan, Kini Muncul Dewan Kopral untuk Ganjar

Hanya saja, kata Anies, masyarakat harus sadar dengan polarisasi tersebut sehingga mereka lebih bijak setelahnya dan tidak menganggap polarisasi sebagai suatu perpecahan.

"Kita kadang-kadang khawatir 'Waduh jangan sampai Pemilu ini terjadi polarisasi loh'. Polarisasi itu sesuatu yang wajar," kata Anies.

"Nah, kita harus dewasa nih. Jangan setiap kali ada polarisasi karena Pemilu lalu dianggap terjadi perpecahan. Nah yg penting selesai pertandingan, maka semua kembali kepada posisi awal sebagai warga negara sekarang bekerja bersama,"

"Dan bagi yang menang, dilihat track recordnya. Yang menang bertugas kan kemudian, apakah yang ditudingkan selama kampanye terbukti ngga selama dia bertugas," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved