Viral di Media Sosial

Pasutri di Bogor yang Adang Truk Sampah Punya Alasan Sendiri dan Kini Trauma

Rini dan suaminya juga mengaku trauma dengan aksi demo yang dilakukan sebagian warga karena aksi yang dinarasikan pengadangan truk sampah ini.

Penulis: Abdul Qodir | Editor: Acos Abdul Qodir
Intagram
Emak-emak di Bogor viral di media sosial setelah menghadang truk sampah yang hendak masuk ke perumahan. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Video aksi pasangan suami istri mengadang truk pengangkut sampah dengan narasi karena kalah pemilihan pemilihan ketua rukun tetangga (RT) di Perumahan River Valley, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, viral di media sosial.

Baik pihak kepolisian maupun kepala desa Palasari menyebut pengadangan dilakukan terkait pemilihan ketua RT.

Dalam video yang beredar, terlihat seorang wanita sedang mengadang truk yang hendak masuk mengakut sampah di perumahan itu.

Warga lain pun memprotes sehingga terjadi adu mulut.

Video lainnya juga memperlihatkan sejumlah warga melakukan aksi protes terhadap kelakuan wanita tersebut.  

"Truk sampah DLH dihalangi masuk buat angkut sampah warga River Valley Bogor Selatan.

Padahal, TPS (tempat pembuangan sampah sementara) aja dibongkar dia sendiri, sekarang dia malah halangin truk sampah masuk," tulis keterangan dalam video tersebut.  

Kompol Hida Tjahjono juga mengatakan, konflik itu terjadi karena permasalahan pemilihan ketua RT beberapa waktu lalu.

Dalam pemilihan itu, perempuan yang ada di video tersebut telah dinyatakan kalah.

"Jadi, itu masalah internal di perumahan. Nah, permasalahannya karena pemilihan RT. Ada salah satu yang mencalonkan dan dia tidak dipilih sama warga (kalah)," ungkap Hida saat dihubungi Kompas.com, Rabu (11/10/2023).

Menurut Hida, usai kalah, pasutri tersebut dan pendukungnya justru ingin membuat RT baru yang beranggotakan 10 KK. Anggota RT tersebut terdiri dari para pendukung mereka.

Hal ini pun kemudian berlanjut dengan aksi para pasutri dan pendukungnya itu enggan menuruti aturan yang ditetapkan oleh RT baru yang sudah terpilih.

Pihak desa sebenarnya sudah memberikan sosialisasi SK atas perubahan RT di perumahan itu.

Akan tetapi, pasutri tersebut dan para pendukungnya tetap tidak terima dan bertahan dengan RT bentukannya.

Benarkan demikian?

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved