Pilpres 2024
Survei Tunjukkan Jokowi Gendong Elektabilitas PDIP, Disebut Jadi Alasan Megawati Lunak ke Gibran
Hasil survei bisa menggambarkan kemungkinan alasan Megawati belum tegas ke Jokowi maupun Gibran karena elektabilitas PDIP digendong Jokowi.
TRIBUNJAKARTA.COM - Gibran Rakabuming Raka, Wali Kota Solo yang seorang kader PDIP jelas-jelas menunjukkan sikapnya membelot dari partai.
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sudah mengumumkan pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD sebagai jagoannya di Pilpres 2024.
Seluruh kader diwajibkan patuh mendukung Ganjar-Mahfud demi memenangkan kontestasi politik nasional itu.
Namun, Gibran justru tidak mengindahkan. Dia bukan hanya mendukung, tapi menjadi cawapres dari kubu lawan.
Putra sulung Presiden Jokowi itu menjadi pendamping capres Prabowo Subianto dari Koalisi Indonesia Maju (KIM).
Jokowi yang juga kader PDIP pun menyatakan merestui langkah sang putra mahkota.
Sebelumnya, putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep masuk PSI.
Bukan hanya berbeda partai dengan ayah dan kakaknya, tapi Kaesang langsung menjadi ketua umumnya.
Sikap partai banteng mengetahui dua kadernya itu, dinilai banyak pihak, lunak.
Sebab, sang ketua umum tidak langsung memberikan sanksi terlebih memecatnya.
Soal keluarga beda partai yang melanggar AD/ART partai, PDIP pernah sangat tegas.

Pada Mei 2023, Gubernur Maluku, Murad Ismail, dicopot dari jabatannya sebagai Ketua DPD PDIP Maluku buntut perpindahan istrinya, Widya Pratiwi, dari partai berlambang banteng ini, ke PAN.
Selain itu, mantan Bupati Bangli, I Made Gianyar, didepak dari PDIP lantaran mendukung adiknya, I Made Subrata, yang maju sebagai calon bupati pada Pilkada Bangli 2020.
Saat itu, I Made Subrata bersama Ngakan Kutha Parwata diusung oleh Golkar, NasDem, dan Gelora. Sementara, I Made Subrata sendiri merupakan kader Golkar.
Sedangkan soal berbeda pilihan, PDIP pernah sangat tegas kepada kadernya yang merupakan aktivis 98, Budiman Sudjatmiko.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.