Parenting

Anak Bisa Jadi Pelaku Kekerasan, Ternyata Ada 5 Penyebabnya yang Perlu Diketahui

Tak cuma menjadi korban, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan. Faktor internal dan eksternal ternyata bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Tayang:
Editor: Siti Nawiroh
Ilustrasi ini dibuat dengan AI
Ilustrasi anak. Tak cuma menjadi korban, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan. Faktor internal dan eksternal ternyata bisa menjadi salah satu penyebabnya. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Selain korban, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan.

Ada tujuh faktor penyebab anak menjadi pelaku kekerasan, salah satunya sosial dan ekonomi keluarga.

Saat ini sedang ramai kasus kekerasan pada anak yang dilakukan seorang pemilik daycare di Depok bernama Meita Irianty.

Ada dua korbannya, anak berusia 2 tahun dan 9 bulan.

Tak cuma menjadi korban, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan.

Faktor internal dan eksternal ternyata bisa menjadi salah satu penyebab anak menjadi pelaku kekerasan verbal maupun fisik.

Untuk mengenal lebih jauh permasalah ini, kenali penyebab anak menjadi pelaku kekerasan dan cara mencegahnya.

Perlu orangtua ketahui, setiap orang termasuk anak-anak pada dasarnya mengalami perubahan emosi dari dari waktu ke waktu.

Jadi, lumrah ketika suatu saat anak-anak mengalami tantrum, setidaknya sembilan kali per minggu.

Ada beberapa faktor penyebab anak-anak menjadi pelaku kekerasan atau tumbuh dengan sifat keras, antara lain:

1. Gangguan mood

lihat fotoKLIK SELENGKAPNYA: Pemilik Daycare Depok Terdiam Seribu Bahasa Disuruh Minta Maaf, Ngaku Aniaya Anak karena Khilaf
KLIK SELENGKAPNYA: Pemilik Daycare Depok Terdiam Seribu Bahasa Disuruh Minta Maaf, Ngaku Aniaya Anak karena Khilaf

Dilansir dari ChildMindInstitute, penyebab anak menjadi pelaku kekerasan lainnya yakni gangguan mood karena beberapa kondisi, seperti bipolar.

Seorang anak dengan gangguan bipolar mengalami fase manik yang dapat menimbulkan perilaku agresif.

Mereka biasanya juga kehilangan kendali, impulsif, dan bisa depresi.

Kondisi ini membuat mereka mengamuk dengan kemarahan yang meletup-letup.

2. Faktor psikosis

Dilansir dari Yankes Kemkes, psikosis adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan tidak nyata.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved