Pilkada DKI 2024
Banyak Bocah Pakai Atribut Pram-Rano Ikut Kampanye: Catatan Bawaslu dan Reaksi Pramono Anung
Banyak bocah yang mengenakan kaos atribut Pramono Anung-Rano Karno saat acara kampanye. Bawaslu beri catatan dan reaksi Pramono Anung.
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com Elga Hikari Putra
TRIBUNJAKARTA.COM - Banyak bocah yang mengenakan kaos atribut Pramono Anung-Rano Karno ikut menghadiri acara kampanye paslon nomor urut 3.
Hal itu terjadi saat Cagub Pramono Anung berkampanye di Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (7/10/2024).
Bocah-bocah itu mengenakan kaos berwarna putih orange lengkap dengan tulisan dan wajah Pram-Rano.
Kaos itu sebenarnya diperuntukan bagi warga yang memang datang di acara kampanye Pram tetapi malah dipakai bocah-bocah itu.
Tak ayal, hal itu menjadi cacatan bagi Panitia Pengawas Kecamatan alias Panwascam yang memantau kegiatan kampanye di lokasi.
Panwascam setempat Bidang Penanganan dan Penyelesaian sengketa, Reza mengatakan bahwa ini bukanlah kali pertama pasangan Pram-Rano dalam kampanyenya melibatkan anak-anak.
"Waktu itu mas Pram juga pernah ada pelanggaran (di Kebon Jeruk) masalah adminisitrasi, akhirnya kami minta ada surat tembusannya, alhamdulillah dipenuhi," kata Reza di lokasi.
Reza tak menampik jika banyak orangtua yang mengajak anak mereka untuk ikut dalam kegiatan politik, termasuk kampanye di Pilkada Jakarta 2024.
Padahal hal itu dilarang sebagaimana diatur dalam Pasal 280 ayat (2) huruf k UU Pemilu dan Pasal 15 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
"Kita tidak menampik kalau ibu-ibu tuh datang ke kegiatan kampanye tidak bisa meninggalkan anaknya. Bukan berarti kami melunak," ujarnya.
Reza mengatakan pihaknya pun bakal memanggil perwakilan dari Pram-Rano untuk menindaklanjuti temuan ini.
Sebab, ia menyebut Bawaslu memiliki tiga cara mencegah pelanggaran yaitu pengawasan, penindakan dan pencegahan.
Reaksi Pramono
Sementara itu, saat dimintai tanggapannya atas banyaknya bocah yang ikut dalam kampanyenya, Pramono menyebut hal itu di luar kendalinya.