Demo di Patung Kuda, Driver Ojol Asal Cirebon Ini Pakai Baju SD, Alasannya Mewakili Derita Sang Anak

Jauh-jauh dari Cirebon, Adeng (50) datang ke Jakarta untuk mengikuti aksi demo yang digelar di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat.

TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Opa Adeng (51), pengemudi ojol asal Cirebon, Jawa Barat bersama rekan-rekan seprofesinya saat mengikuti aksi demo di kawasan Patung Kuda Arjunawiwaha, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (20/5/2025). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Jauh-jauh dari Cirebon, Adeng (50) datang ke Jakarta bersama tujuh rekannya sesama pengemudi ojek online (ojol) untuk mengikuti aksi demo yang digelar di sekitar kawasan Patung Kuda Arjunawiwaha, Gambir, Jakarta Pusat.

Namun tak seperti massa aksi lainnya yang mengenakan atribut ojol saat demo, pria yang akrab disapa Opa ini justru tampak nyentrik mengenakan seragam siswa Sekolah Dasar (SD).

Tampilannya kian mencolok lantaran baju putih dan celana merah yang dikenakannya dipadukan dengan sepatu warna kuning.

Tak hanya itu, ia juga terlihat mengenakan ikat kepala berkelir hijau bertuliskan ‘10 Persen Harga Mati’.

Kalimat itu merupakan salah satu tuntutan dari massa ojol kepada pihak aplikator untuk menurunkan potongan penghasilan dari 20 persen menjadi 10 persen.

Opa Adeng menyebut, kedatangannya ini sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama pengemudi ojol.

“Ini bentuk solidaritas ojol Indonesia di tanggal 20 ini, kami bersatu. Tidak hanya dari Jakarta, semua juga pada datang dari berbagai daerah,” ucapnya, Selasa (20/5/2025).

Menurutnya, saat ini pihak aplikator semakin semena-mena dalam menentukan besaran potongan tarif penghasilan para pengemudi ojol.

Mereka pun kini harus narik ojol hingga tengah malam untuk sekedar mendapat penghasilan Rp100 ribu setiap harinya.

“Itu masa lalu yang menguntungkan, masa sekarang nonsense. Harus sampai malam kalau mau dapat besar, kalau enggak ngalong susah dapat Rp100 ribu,” ujarnya.

Derita para pengemudi ojol juga semakin menjadi-jadi sejak munculnya layanan Paket Hemat.

Mereka pun seolah-olah dipaksa untuk berlangganan Paket Hemat agar orderan lancar.

Bila tak mau berlangganan, maka dalam sehari mereka rata-rata hanya mendapatkan lima orderan saja.

“Layanan berbayar ini kalau di Cirebon dapat tujuh penumpang dipotong Rp13.000. Kita bayar mereka, bukan mereka bayar kita,” kata bapak tiga anak ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved