Pramono Kebanting Kalah Saing dari Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi Kena Singgung Dapat 4 Catatan Kritis

Menjelang 100 hari kerja sebagai Gubernur, beda pencapaian dan kepuasan publik antara Pramono Anung (DKI Jakarta) dengan Dedi Mulyadi (Jawa Barat).

|
Editor: Wahyu Septiana
Istimewa/Tribunjabar.id/Ahya/Kompas.com/ Ruby Rachmadina
PENCAPAIAN KDM DAN PRAM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur Jakarta Pramono Anung. Menjelang 100 hari kerja sebagai Gubernur, beda pencapaian dan kepuasan publik antara Pramono Anung (DKI Jakarta) dengan Dedi Mulyadi (Jawa Barat). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Menjelang 100 hari kerja sebagai Gubernur, beda pencapaian dan kepuasan publik antara Pramono Anung (DKI Jakarta) dengan Dedi Mulyadi (Jawa Barat).

Terbaru  hasil survei dari Indikator Politik Indonesia, nama Dedi Mulyadi melonjak tinggi  mengungguli Pramono Anung.

Gubernur Jakarta Pramono Anung hanya mengumpulkan 60 persen.

"Di Jakarta yang mengatakan puas masih mayoritas, tapi total 60 persen," kata Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi saat rilis survei tersebut melalui Youtube (@IndikatorPolitikIndonesia), Rabu (29/5/2025).

Sementara itu, sebanyak 95 persen warga Jawa Barat puas dengan kerja-kerja yang dilakukan Dedi Mulyadi.

Hanya 4 persen yang kurang puas, dan 1 persen lainnya tidak tahu atau tidak jawab.

"Di Jawa Barat, itu total 94,7 persen, jadi kalau dibulatkan 95 persen warga Jawa Barat yang puas sama Dedi Mulyadi," ujar Burhanuddin.

"Bahkan yang menarik, yang menjawab sangat puas, itu tinggi sekali," tambahnya.

Survei Indikator juga mengukur tingkat kepuasan warga terhadap gubernur lain di Pulau Jawa.

Burhanuddin mengungkapkan, tingkat kepuasan publik Indonesia terhadap pemimpinnya tidak semata-mata karena faktor kinerja.

Melainkan, ada juga faktor emosi yang mendorong warga merasa puas dengan pemimpinnya.

Kesimpulan itu didapat dari riset kolaborasi yang pernah ditulisnya bersama Taberez Ahmed Neyazi, Associate Professor Komunikasi Politik dan Media Baru, Universitas Nasional Singapura.

"Pertanyaannya adalah gitu ya, apakah kepuasan itu murni karena faktor teknokratik atau faktor yang lain."

"Nah studi-studi kami, misalnya saya pernah menulis bersama kolega saya dari NUS, Taberez Ahmed Neyazi, dimuat oleh jurnal ASEAN Survey, itu menunjukkan tingkat kepuasan kepada pemimpin di Indonesia itu tidak semata-mata faktor teknokratik."

"Jadi bukan semata-mata faktor kinerja tapi banyak juga sumbangan dari faktor emosi atau afeksi," papar Burhanuddin.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved