Abdullah dan Herlina masih syok melihat empat anak mereka dievakuasi dan dibawa petugas.
Ada empat mobil ambulans yang membawa jenazah para korban pada Rabu (24/7/2019) dini hari ke Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang.
Hingga Rabu sekitar pukul 01.55 WIB, warga mencoba menenangkan Abdullah dan Herlina.
Herlina sempat pingsan mengetahui empat anaknya meninggal terbakar di dalam rumah.
Sambil memeluk dua anaknya yang masih hidup, Herlina menangis kencang saat diamankan ke rumah warga yang tak jauh dari rumahnya.
Tetangga menilai keluarga Abdullah ramah, walau jarang berkumpul dengan tetangga sekitar karena sibuk mengurus enam anaknya.
"Mereka jarang keluar, tetapi mereka sebagai warga yang tinggal di sini, masih ikut kegiatan warga. Sehingga kami mengenal mereka walau tidak begitu akrab," kata Hamidah, tetangga sebelah korban.
Sehari-hari Abdullah bekerja di salah satu pondok pesantren.
Sumber api dari lilin
Pihak keluarga menolak jenazah anak-anak mereka diautopsi karena menganggap kejadian ini musibah.
Hal itu disampaikan dr Icang Sarazzin, Kabid Pelayanan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Batu di Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang, Rabu.
"Kondisi mayatnya telungkup yang diartikan sebagai menahan kesakitan," ungkap Icang di Rumah Sakit Saiful Anwar.
Kapolsek Junrejo Kota Batu, AKP Supriyanto, membenarkan ucapan Icang.
Abdullah dan Herlina meminta jenazah empat anaknya tidak diautopsi karena akan segera memakamkannya di pemakaman umum di Dusun Junwatu.
"Pak Abdullah meminta tidak ada autopsi," ungkap Kapolsek Junrejo AKP Supriyanto.