Kemendikbudristek Temukan 25 Klaster Covid-19 Sekolah, Disdik DKI: Cuma 1, Sisanya Klaster Keluarga

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kasi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Disdik DKI, Taga Radja Gah (kiri), di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (21/11/2019)

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengaku hanya menemukan satu klaster penularan Covid-19 di 610 sekolah yang menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.

Hal ini dikatakan Kepala Bagian Humas Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taga Radja menanggapi temuan Kementerian Pendidikan soal 25 klaster penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

"Kalau klaster itu hanya satu yang di SDN 03 Klender," ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/9/2021).

Dari hasil tracing yang dilakukan di sekolah tersebut, ditemukan hanya ada satu peserta didik yang tertular Covid-19.

"Ada satu murid terpapar dan menulari satu temannya, jadi dua orang siswa positif," ujarnya.

Selain satu klaster di SDN 03 Klender itu, kasus positif Covid-19 sebenarnya juga ditemukan di lima sekolah lainnya, yaitu SDN 02 Pondok Ranggon, Jakarta Timur; SMP PGRI 20; SMA 20; SMA 25; dan SMK 66.

Namun, Taga menyebut, temuan kasus positif Covid-19 itu bukan berasal dari klaster sekolah.

Siswa dan tenaga pendidik di kelima sekolah itu disebut Taga terpapar Covid-19 dari klaster keluarga.

"Walau pun itu klaster rumah, kami langsung tutup selama tiga hari sesuai SOP. Langsung desinfektan dan tracing," kata Taga.

Baca juga: Rohimah Hidup Susah, Kiwil Tanggapi Anaknya yang Ngojek Demi Tutupi Kebutuhan: Dari Dulu Saya Bilang

Baca juga: Dari Kampung di Pusat Ibukota Ini, 400 Pedagang Starling Berkompetisi Mengais Rezeki Mulai Ashar

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta masih dalami temuan 25 klaster Covid-19 selama penyelenggaraan PTM di Ibu Kota.

Hal ini diungkap Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti kepada awak media kala menghadiri apresiasi tim pemulasaran jenazah Covid-19 posko Monas, Rabu (22/9/2021).

"Tentu kami akan check and cross check semua data. karena definisi klaster perlu disamakan persepsinya," jelasnya di Monas.

Menurut Widi, pengecekan memang perlu dilakukan lantaran sedari memulai PTM indeks kasus bisa berasal dari mana saja.

"Kita tahu bahwa mungkin dari keluarga dulu, atau saat interaksi di jalan karena pada saat di jalan karena tidak semuanya mempunyai kendaraan pribadi atau mungkin komunitas sekolah ada interaksi sekolah yang kebetulan masuk dan sebagainya," jelasnya.

Pengecekan kembali juga dimaksudkan guna melakukan pembuktian terkait data temuan ini.

Pasalnya, temuan klaster ini berdasarkan data real time milik Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), yakni sekolah.data.kemdikbud.go.id.

Dalam laman yang dilihat TribunJakarta.com pada pukul 19.12 WIB, ada 25 klaster pada PTM.

Adapun total responden sekolah yang tercatat sebanyak 900. Kemudian tidak ada klaster pada PTM sebanyak 875 .

Baca juga: Banjir Simpang Mampang Bukan Cuma Soal Genangan, Ada Nyawa Terancam Hingga Ibadah yang Terganggu

Baca juga: Atasi Banjir, Pemkot Jakarta Timur Bangun Crossing di Jalan I Gusti Ngurah Rai

Sementara untuk pendidik dan tenaga kependidikan positif Covid-19 sebanyak 227 orang dan untuk peserta didik yang positif Covid-19 sebanyak 241 orang.

"Jadi untuk mengatakan apakah itu murni klaster sekolah diperlukan pembuktian. Tim kami sedang mendalami awal indeksnya dari mana," ungkapnya.

"Selama ptm berlangsung kasus positif pasti ada, tapi apakah itu murni berasal dari sekolah tentu perlu investigasi lebih intens sehingga bisa kita nyatakan bahwa itu memang klaster. Tapi sekali lagi kita belum diberikan info atau masih dalam proses melakukan investigasi bersama dengan Disdik," tandasnya.

Berita Terkini