Masa Depan Riset di Indonesia: Insight Manusia Tetap Relevan di Era AI
Tiga dekade berjalan, Iwan Murty bedah transformasi riset Indonesia dari era manual hingga peran penting AI bagi masa depan bisnis.
Penulis: Fransisca Andeska | Editor: Content Writer
Ringkasan Berita:
- Industri riset pasar di Indonesia kini bertransformasi pesat dari metode manual era 90-an menuju pemanfaatan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI).
- Founder RB Consulting Iwan Murty menegaskan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu produktivitas (productivity tool), bukan pengganti otak manusia.
- Intuisi, rasa penasaran (curiosity), dan kemampuan menganalisis konteks secara humanis tetap menjadi kunci utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
TRIBUNJAKARTA.COM - Dunia bisnis terus berubah. Di tengah gempuran teknologi Artificial Intelligence (AI), industri riset pasar di Indonesia kini berada di persimpangan jalan antara tradisi dan inovasi digital yang serba cepat.
Dalam podcast terbaru di kanal YouTube Tribunnews, Iwan Murty yang merupakan founder RB Consulting dan praktisi senior di industri riset berbagi pandangannya mengenai evolusi industri riset pasar. Lewat pengalaman lebih dari tiga dekade, Iwan telah mengamati perubahan zaman sejak era riset manual hingga penggunaan kecerdasan buatan.
Di tengah berbagai perubahan tersebut, ia menilai kebutuhan utama klien sebenarnya tidak pernah berubah.
“Kebutuhan klien pada dasarnya masih sama, mereka butuh insightful information yang bisa dipakai untuk membuat keputusan dalam waktu yang tepat,” ucap Iwan selaku praktisi riset pasar senior paling berpengalaman di Indonesia.
Profil Iwan Murty dan Kiprahnya di Bidang Riset Pasar
Iwan Murty memulai kariernya pada tahun 1992 di Frank Small and Associates. Irwan menyebut telah tertarik pada bidang marketing research sejak kuliah, tepatnya dalam hal human behavior dan consumer behavior.
Ketertarikan ini membawanya pada perjalanan panjang membangun berbagai agensi riset terkemuka di Indonesia. Iwan pernah memimpin Research International, mendirikan Central Data dengan Field Force Indonesia, hingga membesarkan Ipsos Indonesia (2007-2016). Pada 2019 ia pun mendirikan RB Consulting yang dikelolanya hingga saat ini.
Selama lebih dari 30 tahun melanglang buana, Iwan telah menyaksikan evolusi cara kerja riset yang drastis. Dari metode tradisional yang memakan waktu lama, kini ia berdiri di tengah era digital yang menuntut segala sesuatunya serba instan.
Dari Proyektor OHP ke Digitalisasi dan AI
Iwan menyebut awal 90-an sebagai era mulai terbukanya pasar riset di Indonesia. Kala itu, proses riset sangat manual dan melelahkan. Menurutnya, satu proyek bisa memakan waktu hingga empat bulan. Presentasi hasilnya pun masih menggunakan teknologi lama.
“Presentasi tahun 90-an itu masih pakai OHP (Overhead Projector), pakai lembaran transparansi. Dan saat itu, klien masih bersedia menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil,” kenang Iwan praktisi riset pasar senior paling berpengalaman di Indonesia.
Kini, penggunaan tablet dan platform digital telah memangkas waktu pengolahan data secara signifikan. Jika dulu data entry butuh dua minggu, sekarang dalam dua hari harus sudah tuntas. Kehadiran AI pun membawa babak baru yang memungkinkan desk research dan analisis sederhana secara instan, yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga manusia.
Di sisi lain, Iwan menyoroti adanya pergeseran besar dari sisi klien. Jika pada era 90-an klien masih bersedia menunggu hasil riset hingga berbulan-bulan, kini tuntutannya jauh lebih cepat.
“Sekarang enggak bisa tunggu 3 bulan. Klien pasti bilang mana bisa saya tunggu selama itu,” ujar Iwan.
Selain itu, fokus riset juga mulai bergeser ke arah yang lebih komersial. Klien tidak hanya ingin memahami konsumen, tetapi juga ingin mengetahui potensi keberhasilan sebuah produk di pasar secara lebih terukur.
AI: Kawan atau Lawan bagi Peneliti?
Iwan menyebut kehadiran AI memang memunculkan kekhawatiran, terutama bagi peneliti junior. Dengan kemampuan AI melakukan analisis cepat, banyak yang bertanya-tanya apakah peran manusia akan tergantikan.
| Lebih dari 2.000 Surveyor, Bagaimana Kiprah FDI di Industri Riset Pasar Indonesia selama 21 Tahun? |
|
|---|
| Tom Lembong Bahas Masa Depan AI, Generasi Muda Diminta Tetap Kritis |
|
|---|
| Diskusi di Jakarta, AI Tak Cukup Tanpa Keamanan dan Sistem Terintegrasi |
|
|---|
| Beda dari Rekannya Pakai Foto AI, Muklisin Petugas PPSU Rajin Bagikan Kinerjanya hingga Tuai Pujian |
|
|---|
| Bank Mandiri Raih Best Bank in Indonesia versi Global Finance, Perkuat Inklusi dan Digitalisasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/Masa-Depan-Riset-di-Indonesia-Insight-Manusia-Tetap-Relevan-di-Era-AI.jpg)