Transjakarta Hadapi “Double Pressure”, Biaya Energi Naik dan Potensi Lonjakan Penumpang

Welfizon menjelaskan, kebutuhan subsidi untuk menjaga operasional Transjakarta pada 2026 diperkirakan meningkat signifikan. 

Tribun Jakarta/Yusuf Bachtiar/Yusuf Bachtiar
TRANSJAKARTA HADARI TEKANAN - Rapat kerja Komisi B bersama BUMD, Transjakarta memaparkan situasi terkini perusahaan menghadapi potensi kenaikan BBM dan peningkatan jumlah penumpang, Kamis (23/4/2026). 

Di sisi lain, Transjakarta juga mendorong peningkatan pendapatan non-farebox melalui kemitraan strategis dan digitalisasi, termasuk menawarkan sistem fleet management kepada pihak eksternal.

Adapun dari sisi pendapatan, Welfizon menyebut tiket masih menjadi kontributor utama dengan nilai sekitar Rp700 miliar. 

Sementara pendapatan non-farebox ditargetkan mencapai Rp300 miliar pada tahun ini.

“Jadi total target pendapatan kita sekitar Rp1 triliun,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung soal tarif layanan yang belum mengalami penyesuaian sejak 2005, yakni masih di angka Rp3.500.

Padahal, kata dia, terjadi kenaikan signifikan pada Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta dalam kurun waktu tersebut.

“Tahun 2005 UMP masih sekitar Rp800 ribu, sekarang sudah Rp6 juta, naik 7 sampai 8 kali lipat. Tapi tarif kita masih sama selama 21 tahun,” jelasnya.

Saat ini, Transjakarta tengah melakukan kajian terkait penyesuaian tarif, termasuk untuk layanan ke bandara dan rute Transjabodetabek.

Hasil kajian tersebut nantinya akan disampaikan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk diputuskan lebih lanjut.

Berita terkait

 

Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved