Perajin Tempe Kampung Sunter Terdampak Dolar Menguat, Produksi Makin Mahal

Para perajin tempe mengaku khawatir karena kenaikan kurs dolar berdampak pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi mereka.

Tayang:
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino/Gerald Leonardo Agustino
PERAJIN TEMPE - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para pelaku usaha kecil di Kampung Tempe, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara. (TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO).​ 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para pelaku usaha kecil di Kampung Tempe, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Para perajin tempe mengaku khawatir karena kenaikan kurs dolar berdampak pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama produksi mereka.

Meski biaya produksi terus meningkat, para perajin belum berani menaikkan harga jual tempe karena ketatnya persaingan di pasaran.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh para pelaku usaha semakin menipis dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Selasa (9/6/2026) sore, aktivitas produksi tempe di Kampung Tempe masih berlangsung seperti biasa.

Sejumlah pekerja terlihat mengolah kedelai, membungkus tempe, hingga menyiapkan produk untuk didistribusikan ke pasar dan pelanggan.

Namun di balik aktivitas tersebut, para perajin menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku.

Selain kedelai impor, harga plastik pembungkus tempe juga mengalami kenaikan yang turut menambah beban operasional usaha.

Salah seorang perajin tempe, Noyo, mengatakan kenaikan nilai tukar dolar berpengaruh langsung terhadap usaha yang telah dijalankannya selama kurang lebih 12 tahun.

Menurut dia, sebagian besar kedelai yang digunakan para perajin masih berasal dari impor Amerika Serikat sehingga harga jualnya sangat dipengaruhi pergerakan kurs dolar.

"Kalau menurut saya sih pengaruh. Yang namanya kurs naik, harga kedelai juga naik. Jadi pengaruh," kata Noyo.

Noyo mengaku belum menerima informasi pasti mengenai besaran kenaikan harga kedelai dari pemasok.

Namun, biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku kini lebih besar dibanding sebelumnya.

"Tadinya ibarat kata kita Rp 1.000, sekarang jadi Rp 1.200 sampai Rp 1.500 Jadi nambah," ujarnya.

Kenaikan biaya produksi itu berdampak langsung pada pendapatan para perajin tempe.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved