Terancam Terusir dari Rusun Kemensos, Puluhan Warga Minta Akses Rusun ke Pemprov DKI
Perwakilan warga Rusun Sentra Mulya Jaya, Bambu Apus, Jakarta Timur mendatangi DPRKP DKI Jakarta di Cideng, Jakarta Pusat.
Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Perwakilan warga Rusun Sentra Mulya Jaya, Bambu Apus, Jakarta Timur mendatangi Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Mereka menyampaikan keluhannya untuk bisa mendapatkan unit rumah susun milik Pemprov DKI Jakarta lantaran saat ini telah melebihi masa huni di Rusun Sentra Mulya Jaya.
Diketaui, Rusun Sentra Mulya Jaya adalah bangunan vertikal milik Kementerian Sosial (Kemensos) untuk menampung para masyarakat menengah ke bawah dengan masa tampung maksimal dua tahun dengan satu tahun perpanjangan.
Perwakilan Paguyuban Warga Rusun Mulya Jaya (PWRMJ), Sutarman mengatakan, dalam pertemuan yang juga dihadiri perwakilan Kemensos, belum menemui titik temu terkait nasib mereka ke depan.
"Tadi diskusi berlangsung sekitar 1,5 jam, tapi belum ada kesepakatan. Belum ada jalan keluar untuk langkah kita selanjutnya," ujar Sutarman kepada awak media, Jumat (12/6/2026).
Dijelaskan Sutarman, ada sebanyak 22 keluarga yang terdiri dari 71 jiwa anggota PWRMJ yang terancam kehilangan tempat tinggal setelah masa terminasi atau masa huni dari Kemensos akan segera berakhir.
Padahal, seluruh warga yang menghuni rusun tersebut merupakan pemegang KTP DKI Jakarta yang sangat mengharapkan hunian layak.
Sutarman menjelaskan, dalam pertemuan, pihak DPRKP DKI Jakarta memberikan dua opsi akses rusun yang dianggap memberatkan warga.
Pertama, melalui jalur program pemerintah (relokasi warga terdampak penggusuran atau banjir).
Kedua, mendaftar secara mandiri melalui aplikasi Sirukim.
"Kalau jalur umum (Sirukim), persyaratannya berat dan pembayarannya mahal.
Kondisi ekonomi kami di sini sangat terbatas, rata-rata pekerjaan kami hanya pemulung, ojek, hingga pekerja serabutan. Kami tidak sanggup membayar tarif rusun umum," ujarnya.
Warga berharap pemerintah memberikan solusi hunian di lokasi yang dekat dengan akses pekerjaan mereka, yakni di Rusun Jagakarsa (Jakarta Selatan) atau Rusun Pasar Rebo (Jakarta Timur).
"Aktivitas kami di sana, di pasar induk atau sekitar Jakarta Selatan dan Timur. Kalau pindah jauh, biaya transportasi akan semakin menyulitkan," tambahnya.
Hak Dasar yang Hilang
Lebih miris lagi, Sutarman membeberkan bahwa selama menempati Rusun Sentra Mulia Jaya, kondisi kesejahteraan mereka justru terpuruk.
| Cerita Ojol di Jakarta Akui Tarikan Makin Sepi: Hanya Bawa Pulang Rp 50 Ribu buat Makan Keluarga |
|
|---|
| Jeritan Tunanetra Jakarta Timur, Pertuni Protes Bantuan KPDJ Diputus:Disabilitas Emang Bisa Gantian? |
|
|---|
| Rupiah Melemah dan Pertamax Naik, Tunanetra Penjual Kerupuk hingga Pemijat Kehilangan Pelanggan |
|
|---|
| Kabur Tinggalkan Motor, Penjual Simpan Obat Keras di Semak-semak BKT Jakarta Timur |
|
|---|
| Kecelakaan Hari Ini di Cakung: Sedang Menepi, Ojol Tewas Tertabrak Mobil Listrik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/PENGHUNI-RUSUN-Perwakilan-warga-Rusun-Sentra-Mulya-Jaya-usais.jpg)