Investasi Kripto
Mengapa Bitcoin Disebut Emas Digital? Ini Penjelasan Analis Kripto
Julukan “emas digital” kerap disematkan pada Bitcoin sejak beberapa tahun terakhir.
TRIBUNJAKARTA.COM - Julukan “emas digital” kerap disematkan pada Bitcoin sejak beberapa tahun terakhir. Istilah ini muncul karena banyak investor menilai mata uang kripto terbesar di dunia itu memiliki karakteristik yang mirip dengan emas sebagai penyimpan nilai (store of value).
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, sebagian pelaku pasar mulai memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio investasi mereka sebagai alternatif aset lindung nilai.
Fenomena ini membuat posisi Bitcoin semakin sering dibandingkan dengan emas.
Berbeda dengan emas yang berbentuk fisik dan membutuhkan penyimpanan khusus, Bitcoin dapat disimpan secara digital melalui dompet kripto atau crypto wallet.
Hal ini membuat proses penyimpanan dan transfer nilai menjadi lebih cepat dan efisien.
Salah satu alasan utama Bitcoin dijuluki emas digital adalah karena jumlahnya yang terbatas. Protokol Bitcoin hanya mengizinkan maksimal 21 juta koin untuk beredar di seluruh dunia, sehingga kelangkaannya dianggap mirip dengan logam mulia seperti emas.
Saat ini, harga Bitcoin sendiri masih menjadi yang terbesar di pasar kripto dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD 1 triliun.
CNBC melaporkan, pada pertengahan 2025 banyak investor mulai melihat Bitcoin sebagai aset alternatif yang dapat digunakan untuk menyimpan nilai, terutama ketika kondisi pasar keuangan global tidak stabil.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa narasi Bitcoin sebagai “digital gold” kembali menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset alternatif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sejumlah analis bahkan menilai Bitcoin memiliki potensi menjadi pesaing serius bagi emas dalam jangka panjang.
Analis dari bank investasi global JPMorgan memperkirakan bahwa kapitalisasi pasar Bitcoin dapat semakin mendekati nilai pasar emas dalam beberapa tahun ke depan jika adopsi kripto terus meningkat.
Menurut laporan tersebut, jika tren adopsi institusional terus berlanjut, harga Bitcoin bahkan diproyeksikan bisa mencapai sekitar USD 170.000 dalam beberapa tahun ke depan, seiring meningkatnya perannya sebagai aset investasi global.
Sementara itu, analis pasar juga menilai posisi Bitcoin dalam sistem keuangan global semakin kuat.
Mengutip Yahoo Finance, Analis di JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou , menyoroti rasio volatilitas Bitcoin terhadap emas telah menunjukkan tren menurun, yang mengindikasikan potensi harga Bitcoin mendekati $170.000 pada tahun 2026.
Laporan media kripto internasional CoinDesk menyebut bahwa sejumlah lembaga keuangan mulai mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset yang dapat berdampingan dengan emas dalam portofolio investasi global.
Bahkan dalam jangka panjang, beberapa analis memperkirakan Bitcoin berpotensi masuk dalam cadangan aset keuangan global, meskipun emas kemungkinan masih tetap menjadi aset lindung nilai utama.
Selain faktor kelangkaan, Bitcoin juga dianggap menarik karena sifatnya yang terdesentralisasi. Tidak seperti mata uang fiat yang dikontrol oleh bank sentral, Bitcoin berjalan di atas teknologi blockchain yang tidak dikendalikan oleh satu otoritas tertentu.
Karakteristik ini membuat sebagian investor melihat Bitcoin sebagai aset yang relatif independen dari kebijakan moneter pemerintah, terutama ketika bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, tidak semua analis sepakat bahwa Bitcoin sepenuhnya dapat menggantikan emas sebagai aset safe haven.
Sebagian pengamat menilai volatilitas harga kripto yang masih tinggi membuat Bitcoin sering bergerak seperti aset berisiko, mirip saham teknologi.
Namun seiring meningkatnya adopsi kripto oleh investor ritel maupun institusi besar di seluruh dunia, narasi Bitcoin sebagai “emas digital” diperkirakan akan terus berkembang dalam lanskap keuangan global.
Baca berita TribunJakarta.com lainnya di Google News atau langsung di halaman Indeks Berita
| Bitcoin Gagal Tembus 80.000 Dolar US, Analis Sebut Investor Sedang Kurang tartarik Aset Kripto |
|
|---|
| Analis Kripto Baca Potensi Bitcoin Menuju 80.000 Dolar US: Sedang Bangun Fondasi Support |
|
|---|
| Transaksi Kripto di Indonesia Melesu, Perang Dagang hingga Perang Senjata Sama-Sama Beri Dampak |
|
|---|
| 26 Hari Perang Timur Tengah: Emas Anjlok 15 Persen, Kripto Hijau |
|
|---|
| Ini Strategi Investasi Kripto yang Gak Pake Emosi, Tenang saat Harga Turun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-bitcoin-0.jpg)