Demo 20 Tahun Reformasi Ricuh, 7 Mahasiswa Terluka, Fadli Zon: Oknum Polisi Barbar
Banyak pihak yang menyayangkan tindakan represif oknum aparat kepolisian. Termasuk Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon.
Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Rr Dewi Kartika H
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Rr Dewi Kartika H
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Demo 20 tahun reformasi berakhir ricuh, tujuh orang yang diduga sebagai mahasiswa mengalami luka-luka, Senin (21/5/2018).
Kejadian naas itu bermula ketika sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Indonesia Majelis Pertimbangan Organisasi (HMI MPO) menyuarakan tuntutan mereka.
Ke tujuh mahasiswa yang terluka bahkan harus sampai dilarikan ke rumah sakit.
Baca: Terpopuler - Nia Ramadhani Curhat Dipermalukan di Singapura, Karena Ucapkan Hal Ini
Banyak pihak yang menyayangkan tindakan represif oknum aparat kepolisian.
Termasuk Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon.
Melalui akun twitternya Fadli mengutuk tindakan tersebut.
Bagaimana kisah selanjutnya? mari Kita simak!
TONTON JUGA
Dikutip TribunJakarta.com dari Kompas.com menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, tujuh orang yang terluka dalam aksi unjuk rasa 20 tahun reformasi dirawat di RSUD Tarakan.
"Tujuh mahasiswa terluka dan dibawa ke RSUD Tarakan," ujar Argo ketika dihubungi, Selasa.
Ia menjelaskan, kejadian itu bermula saat sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Indonesia Majelis Pertimbangan Organisasi (HMI MPO) menyuarakan tuntutan mereka pada Senin siang kemarin.
Pada sekitar pukul 14.30 WIB, para mahasiswa bergeser dari patung kuda menuju Taman Pandang di Jalan Medan Merdeka Utara atau di seberang Istana Presiden.
"Sekitar pukul 15.10 WIB mahasiswa mencoba mengarah ke Istana, namun dapat dilakukan penyekatan sesuai protap diarahkan ke Taman Pandang. Setelah itu mahasiswa orasi di Taman Pandang tetapi di sisi luar jalan melewati water barrier dan beton. Sebagian berdiri di atas barrier beton," kata dia.
Selanjutnya polisi memasang kawat barrier untuk menghindari keributan akibat suasana yang semakin memanas.
Baca: Jasa Marga Siapkan 68 Rest Area Sambut Arus Mudik dan Balik Lebaran 2018
Namun mahasiswa mendorong water barrier ke arah jalan sehingga kawat barrier terdorong ke jalan dan mulai menginjak injak kawat barrier.
"Kemudian mahasiswa membuat barikade lingkaran untuk membakar dua buah ban sepeda motor dengan menggunakan satu plastik bensin. Mahasiswa pun mulai membakar ban," tuturnya.
Saat itu polisi berusaha mematikan api, namun dihadang mahasiswa.
Salah satu mahasiswa menggunakan bambu dan hal itu menyebabkan petugas terprovokasi.
Aksi saling dorong yang berujung kericuhan pun terjadi. Akibatnya, tujuh mahasiswa terluka.
Namun setelah dilakukan perawatan, sekitar pukul 20.00 WIB para mahasiswa diperbolehkan pulang.
Baca: Mengaku Sedih, Sandiaga Tak Ingin Lagi Lihat Warga Salat Tarawih di JPO
"Tapi tidak ada mahasiswa yang kami amankan," kata dia.
Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Ketua DPR RI angkat bicara.
Di Twitter pribadinya Fadli Zon mengutuk keras tindakan oknum aparat.
Menurutnya cara polisi menangani demonstran tidak profesional bahkan terkesan barbar.
"Cara barbar dan tidak proesional menangangi demonstrasi," tulis Fadi Zon, Rabu (23/5/2018).
Bahkan politisi Partai Gerindra itu mengatakan apa yang dilakukan polisi telah merusak citra aparat di Indonesia.
"Sungguh memalukan dan semakin merusak reputasi aparat di negeri demokrasi," tulisnya.
Ia juga mengungkapkan oknum polisi yang melakukan tindakan represif hingga tujuh mahasiswa cedera patut diusut.
Tak hanya di usut menurut Fadli oknum aparat itu juga harus ditindak.
"Oknum polisi barbar yg melakukan tindakan ini harus diusut dan ditindak." cuit Fadli.
Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Saddam, juga berpendapat demikian.
Ia menyayangkan tindakan represif aparat terhadap mahasiswa yang menyampaikan aspirasinya di depan Istana Negara, dalam rangka merayakan peringatan 20 tahun reformasi.
"Di era demokrasi sebagai buah dari reformasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi dijamin UU, dan saya kira kritikan konstruktif sehat bagi kehidupan berbangsa harus dihargai," kata Ketua Umum PB HMI, Respiratori Saddam Al Jihad, dalam siaran pers, Selasa (22/5/2018).
Saddam mengatakan, saat masih ada kritik dalam beragam bentuk, termasuk demonstrasi, merupakan pertanda baik bagi demokrasi. Ia menyayangkan cara aparat dalam peristiwa tersebut.