Lion Air JT610 Jatuh

DVI Polri: Sampel DNA Paling Baik Berasal dari Tulang

Kepala DVI Polri Kombes Pol Lisda Cancer menuturkan, pihaknya belum menyerah untuk mengidentifikasi para korban

DVI Polri: Sampel DNA Paling Baik Berasal dari Tulang
TribunJakarta/Dionisius Arya Bima Suciq
Kepala DVI Kombes Pol Lisda Cancer (tengah) saat menyampaikan hasil sidang rekonsiliasi kepada awak media di Ruang Sentra Visum dan Medikolegal, RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (7/11/2018). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Sebanyak 82 penumpang Lion Air dengan nomer registrasi PK-LQP telah berhasil teridentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri hingga minggu kedua pascatragedi maut itu.

Sementara, menurut data manifes, ada 189 penumpang yang menjadi korban jatuhnya pesawat berlogo singa itu di perairan Karawang, Jawa Barat.

Ini artinya masih ada 107 penumpang yang belum teridentifikasi. Kepala DVI Polri Kombes Pol Lisda Cancer menuturkan, pihaknya belum menyerah untuk mengidentifikasi para korban meski sejumlah kendala dihadapi.

Ia menjelaskan, beberapa sampel DNA yang telah diambil ternyata memiliki kualitas yang buruk sehingga pemeriksaan harus diulang kembali.

"Tergantung dari body part yang kami terima, tapi bukan berarti yang datang belakangan akan jelek hasilnya. Bisa jadi sebaliknya," ucapnya kepada awak media, Senin (12/11/2018).

Dikatakan Lisda, bagian tubuh yang paling baik menghasilkan sampel DNA ialah tulang karena bisa bertahan puluhan tahun.

"Tulang itu bagus daripada jaringan karena DNA berada di dalam tulang, di sumsum atau di sel tulangnya," ujarnya di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Jadi lebih kuat dan lebih tahan lama," tambahnya.

Terkuak Dana Pernikahannya Bukan dari Sponsor, Vicky Prasetyo: Saya Bertanggungjawab Sebaik Mungkin

Dari Panggung Kampung ke Ballroom Megah, Inul Daratista Ungkap Perjuangannya demi Putranya

Pesepeda Onthel Tewas Tertabrak Truk Tronton di Penjaringan

Ia menjelaskan, bagian tubuh lainnya selain tulang lebih rentang rusak akibat proses pembusukan yang berlangsung lebih cepat.

"Sebenarnya ada batas waktunya, artinya kualitas sampel DNA akan semakin memburuk apabila terlalu lama, musuh terbesar ya pembusukan jaringan," kata Lisda.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan RS Polri Kramat Jati Kombes Pol Sumirat mengatakan, lebih dari 150 dokter telah dikerahkan untuk mempercepat proses identifikasi.

"Untuk kasus ini lebih dari 150 (dokter), khusus untuk bagian DNA itu kerja shift karena alat bekerja 24 jam. Sementara yang lain bisa kerja sampai pukul 24.00 WIB," ucapnya.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved