Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Bekasi Bakal Jadi yang Pertama dan Satu-satunya di Indonesia

"Dari hasil uji coba kemarin itu tentu sangat memuaskan, kami sudah berhasil memenuhi target bahkan melebihi target yang diharapkan Pemkot Bekasi,"

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Bekasi Bakal Jadi yang Pertama dan Satu-satunya di Indonesia
TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
PLTSa Sumur Batu yang dikembangkan Pemkot Bekasi bersama PT NWA di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BANTAR GEBANG - Presiden Direktur PT Nusa Wijaya Abadi (NWA), Tenno Sujarwanto mengatakan, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Sumur Batu yang dikembangkan atas kerja sama pihaknya dengan Pemerintah Kota Bekasi, bakal jadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Tenno menjelaskan, Kota Bekasi merupakan satu dari 12 kota di Indonesia yang berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018, menjadi lokasi percepatan pembangunan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.

"Berdasarkan Perpres itu ada 12 kota dan satu Provinsi yakni DKI Jakarta, cuma dari semua itu baru Kota Bekasi yang paling siap, karena alatnya sudah ada, yang lain belum ada," kata Tenno, Senin, (11/2/2019).

Adapun sejauh ini, PLTSa Sumur Batu belum dapat beroperasi secara reguler, PT NWA pada, 5 dan 6 Februari 2019 lalu baru saja melaksanakan uji coba atas surat perintah Dinas Lingkungan Hidup. Uji coba dilakukan selama 24 jam full untuk membuktikan PLTSa Sumur Batu berjalan optimal dan siap dioperasikan.

"Dari hasil uji coba kemarin itu tentu sangat memuaskan, kami sudah berhasil memenuhi target bahkan melebihi target yang diharapkan Pemkot Bekasi," kata Tenno.

PLTSa Sumur Batu saat ini hanya tinggal menunggu hasil studi kelayakan (Feasibility Study/FS) yang akan dilakukan oleh pihak PLN. Hasil studi kelayakan itu nantinya akan dijadikan acuan pembuatan power purchase agreement (PPA) dengan PLN selaku pihak yang diamanatkan dalam Perpres untuk membeli listrik hasil produksi PLTSa.

"Jadi nanti FS itu kita akan presentasi, diuji apakah sudah sesuai standar untuk mendapatkan sertifikat laik operasi (SLO) dari PLN, ketika sudah dapat SLO baru nanti penandatangan PPA," jelas dia.

Tenno menargetkan, PPA bisa disepakati paling lambat Maret 2019. Perjanjian yang akan diteken yakni pembelian listrik sebesar 9 megawatt selama 20 tahun. Dengan besaran tegangang tersebut, rata-rata sampah sisa yang dimusnahkan mencapai 19,8 ton per jam atau sekitar 475 ton per hari.

"Jadi kemarin kita sudah uji coba dengan Dinas LH Kota Bekasi, dari hasil uji coba itu nanti wali kota akan keluarkan surat rekomendasi ke Kementerian ESDM, nah setelah itu baru akan diteruskan ke PLN untuk ditindaklankuti dalam bentuk kerja sama melalui PPA," paparnya.

Begini Penjelasan Teknologi PLTSa Mengolah Sampah Bantar Gebang Jadi Listrik

BPPT Ground Breaking PLTSa di Bantar Gebang, Solusi Pengolahan Sampah Kota Besar

Dari hasil uji coba, PT NWA saat ini telah mampu mengolah sebanyak 3,3 ton sampah per jam atau lebih dari target yang diharpakan sebesar 2,3 ton per jam. Untuk mengolah sampah menjadi listrik, PT NWA terlebih dahulu mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) untuk selanjutnya dibakar menggunakan teknologi Circulating Heat Combustion Boiler-system (CHCB).

"Dengan sistem (CHCB) kita mampu membakar sampah dengan suhu di atas 1.323 derajat celcius, artinya itu sudah lebih dari layak dimana batas minimal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 850 derajat celcius agar tidak mencemari lingkungan," kata Tenno.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved