Baik, Ramah dan Dermawan, Sosok Sastrawan Danarto di Mata Tetangganya
Shinta, tetangga lainnya juga hanya mengenal Danarto yang ia ketahui sebagai sosok yang baik dan ramah kepada orang-orang
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Muhammad Zulfikar
Tetangga lain sang penulis kumpulan cerpen berjudul 'Setangkai Melati di Sayap Jibril' itu adalah, Sri Wahyuni, penjaga warung makan di sebelah kontrakannya.
Ia sudah hafal menu favorit pria berrambut putih itu adalah sayur bening dengan nasi sedikit.
Sri Wahyuni mengaku sampai menangis saat mendengar kabar wafatnya Danarto yang selama ini hanya ia kenal dengan sebutan 'bapak' saja.
Ia mengenal Danarto sebagai orang yang dermawan dan baik. Menurutnya, meskipun hidup sederhana, tetapi ia sering memberi kepada orang lain.
"Baik banget, malah dia kalau ada pengemis, tukang sampah atau siapa, suka ngasih, walaupun keadaan dia juga hanya seperti itu," ujar Sri Wahyuni sambil membuat minum untuk pembelinya.
Baca: Danjen Kopassus Adakan Silaturahmi dengan Pemred Media Nasional
Di warung Sri Wahyuni, Sumarno, pengendara ojek yang sering makan di tempat tersebut, juga mengenal Danarto.
Sumarno mengingat Danarto sebagai sosok yang pendiam, walaupun suka menyapa orang.
Ia juga mengenal gaya jalannya yang lambat dengan tas bahan (tote bag) yang selalu dibawanya.
"Orangnya pendiem, enggak banyak komentar. Gendong tas bahan biasanya, jalannya lambat," ujarnya
Danarto meninggal dunia karena luka parah di bagian kepala lantaran kecelakaan ditabrak motor pada Selasa (10/4/2018) lalu.
Meskipun sudah mendapat penanganan medis di Rumah Sakit UIN dan Rumah Sakit Fatmawati, namun akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 20.54 WIB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/danarto-penyairkompasputu-fajar-arcana_20180410_222507.jpg)