Polemik Wagub DKI Tambah Panas, Sandiaga Pede Hingga Gerindra Minta PKS Tak Berkoar

Gerindra klaim menahan diri soal posisi cawagub DKI Jakarta, tapi tidak dengan PKS yang minta kejelasan lebih cepat. Ancaman PKS merongrong koalisi.

TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Calon wakil presiden Sandiaga Uno dan Presiden PKS Sohibul Iman di Adin House, Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (20/10/2018). 

"Kalau mau menepati janjinya, menepati komitmen komunikasi politiknya, ya udah tinggal tanda tangan aja administrasi dua orang itu. Diusung oleh dua partai. Kalau enggak begitu, kalau harus bertanding lagi, itu namanya ya bukan komitmen komunikasi politik," ungkap dia.

Sehari kemudian, Suhaimi menyinggung ancaman mesin PKS di DKI Jakarta akan mati  di Pilpres 2019.

"Kekecewaan itu sudah terasa di bawah. Kalau kader pada kecewa, otomatis mesin partai pasti mati tuh karena PKS itu kan partai kader," ujar Suhaimi ketika dihubungi Kompas.com pada Selasa (30/10/2018).

Sejak awal kader PKS di tingkat paling bawah memahami pemilihan cawagub menjadi komitmen antara Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Komitmen itu menyebut bahwa posisi wagub DKI Jakarta diserahkan kepada PKS. Di internal PKS, komitmen apapun yang dibuat pimpinan partai akan langsung diikuti kader di tingkatan bawah.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi di internal Partai Gerindra, karena komitmen antara Prabowo dan Sohibul tak serta merta diikuti kepengurusan partai di tingkat DKI Jakarta.

Atas kondisi itu, Suhaimi menganggap wajar jika kader merasa kecewa. Kekecewaan ini bisa berdampak pada upaya pemenangan Prabowo dan Sandiaga di Jakarta.

"Sudah ada komentar misalnya 'sudah Pemilihan Presiden silakan Gerindra urusin sendiri'. Itu kan bentuk kekecewaan. Jadi gundah gulana kader terkait wagub ini sudah terasa di bawah," ujar Suhaimi.

Terkait mekanisme penentuan pengganti Sandiaga, partai pengusung harus mengajukan dua nama pengganti kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Setelah itu, Anies tinggal mengantarkan dua nama tersebut kepada DPRD DKI Jakarta. Kemudian DPRD DKI Jakarta akan memilih satu orang dari dua kandidat tersebut.

PKS kasihan Anies

Presiden PKS Sohibul Iman berharap keputusan soal teka-teki pengisi kursi Wagub DKI tidak sampai proses pemilihan umum usai.

Bila terlalu lama, dia kasihan kepada Anies.

"Kita berharap enggak sejauh itu (sampai pemilu). Proses ada, tapi jangan lama-lama. Pak Anies kasihan sendiri nggak ada temannya, kasihan," kata Sohibul di Universitas Bung Karno, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/10/2018).

Meski pergantian posisi wagub DKI Jakarta yang ditinggalkan Sandiaga atas kemauan sendiri tidak dibatasi waktu, Sohibul berharap Gerindra dan PKS bisa secepatnya menyelesaikan pembahasan di tahap kandidatnya secara konkret.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved