Heri Pernah Tinggal di Kolong Jembatan Selama 2 Tahun untuk Mengelola Sampah
Terhitung sudah lebih 12 tahun Heri bergumul dengan hal yang menurut orang lain sudah tidak memiliki nilai tersebut
Penulis: Afriyani Garnis | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Afriyani Garnis
TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Heri Iskandar (49) memanfaatkan sampah sebagai mata pencariannya.
Terhitung sudah lebih 12 tahun Heri bergumul dengan hal yang menurut orang lain sudah tidak memiliki nilai tersebut.
Ia yang tinggal di Rumah Susun (Rusun) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara kemudian memanfaatkan gedung yang tidak terpakai untuk dijadikan temapt pengolahan sampah.
Berawal dari keputusaasan dari sekolah sampai bekerja hingga tahun 2005, Heri memulai perubahan dalam hidupnya sejak mencoba berkomunikasi dengan pemulung.
"Saya akhirnya komunikasi sama pemulung, saya tanya kamu komunikasi dapat berapa? Sekian sekian katanya. Waktu itu kan menurut dia, saya penasaran, tapi kalau saya melakukan sepeti pemulung itu ngak mungkin, malu juga ketemu teman-teman saya," kata Heri.
"Wah ini gimana? Kok Heri anak kuliahan mulung?" lanjut dia.
Heri merupakan lulusan Akademi Pariwisata tahun 1991. Selepas menjadi sarjana Heri bekerja sesuai ilmu yang didapat saat kuliah, kemudian mencoba berbagai pekerjaan lain setelahnya.
"Akademi pariwisata lulus tahun 1991. Tapi kerja di bank, travel otomotif. Memang waktu abis kuliah ke travel, pas dapat ke bank pindah ke bank, baru kerja di depstore dapat tawaran lagi ke otomotif," cerita dia.
Menurutnya hasil pemulung saat itu cukup lumayan, bisa mendapat Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu dalam sehari.
Dirinya berfikir bahwa banyak peluang lebih yang bisa didapat dari mengolah sampah.
"Akhirnya saya mencoba, dan tepaksa pisah sama istri supaya hidup mandiri, tapi pisah rumah aja. Dia dirumah bapaknya saya tinggal di kolong jembatan. Istilahnya survei, analisis selama selama 3 bulan belajar mulung," kata dia.
"Saya mulungnya tapi nggak dijalanan, di banjir kanal barat kalijodo. Dan selama dua tahunnya di kolong jembatan. Modal 150 ribu 200 saya beli bambu, saya buat rakit bambu. Saya bawa ke tengah kali saya pantek tuh rakit saya," lanjut dia.
Saat itu, semua sampah yang ada di kali tersebut ia kumpulkan dan berhasil mendapatkan uang sampai Rp 60 ribu dalam satu hari.
"Sehari bisa dapat 30 sampai 60 ribu, kerja dari pagi sampai sore kemudian langsung dijual," kata dia.
• Resmi Layangkan Kasasi, Kuasa Hukum Ahmad Dhani: Target Kami Bebas
• Ada APK Roboh di Trotoar Jalan Kembangan Raya Jakbar
• Kemenpora Minta Joko Driyono Legowo Lepas Jabatan di PSSI
Memiliki pengalaman di bidang pemasaran, Heri terfikir untuk menciptakan peluang lebih.
Berbekal pemahaman dari pemasaran saya ciptakannya pemasaran sampah,yang belum ada pada tahun 2006
"Saya buat konsepnya, Jasa angkutan sampah dengan nama Nusantara Indah. Jadi Nusantara akan indah nih kalau tidak ada sampah," terangnya.
Dengan memanfaatkan mobil bak terbuka yang disewanya, Heri pun berhasil mendapat keuntungan lebih dari Rp 300 ribu rupiah dari jasa mengangkut dan mengolah sampah tersebut.
Kini, dalam sehari Heri mampu mengolah dua ton sampah an organik dan organik yang diolah bersama delapan orang karyawannya.
Pendapatannya pun mulai bertambah sejak mengolah sampah organik menjadi kompos, hasil dari pengolahan sampah rumah tangga tersebut ia jual kembali ke warga dengan harga yang cukup terjangkau.
Terdapat kompos padat dan kompos cair yang ia olah. Ipun menjualnya hanya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu.
Dalam waktu sebulan Heri, saat ini heri mampu mengantongi keuntungan mencapai Rp 10 juta.